6 Alasan yang bikin kamu harus pikir-pikir lagi soal roti gandum
Jum'at, 24 November 2017
ok nusantara
Bagikan

6 Alasan yang bikin kamu harus pikir-pikir lagi soal roti gandum

Kebanyakan orang saat ini salah kaprah menganggap roti gandum lebih baik daripada roti biasa.

Hasil gambar untuk roti gandum

Beberapa dari kita tahu bahwa untuk tetap fit dan sehat, kita perlu berhenti untuk mengonsumsi karbohidrat. Lalu semua orang menganggap bahwa roti tawar putih menjadi pilihan yang tepat, bahkan banyak orang yang kini makin sadar akan kesehatan sehingga lebih memilih roti gandum ketimbang roti putih. Tetapi benarkah roti gandum benar-benar sehat?

Yang benar adalah, nggak hanya karbohidrat dan jenis yang diproses dari tepung tetapi penyebab sebenarnya adalah apa yang ada di roti gandum. Salah satu bahan ini nggak hanya menjadi masalah bagi orang-orang yang peka dengan gluten tapi bisa jadi masalah bagi setiap orang. 

Gluten adalah sejenis protein yang terdapat pada gandum dan tepung. Gluten mengandung komponen protein yang disebut peptida. Kebanyakan orang menghindari gluten karena alasan kesehatan, terutama para penderita celiac disease (alergi terhadap protein gluten yang menyebabkan gangguan kekebalan).

Menurut William Davis, dokter sekaligus penulis buku Wheat Belly: Lose the Wheat, Lose the Weight, and Find Your Path Back to Health, gandum telah berubah selama bertahun-tahun dan mungkin nggak cocok lagi untuk dikonsumsi seperti ketika kami pertama kali mulai panen.

Seperti yang dilansir brilio.net dari lifehack, Sabtu (9/5), ini hal-hal yang bisa membuatmu kembali berpikir tentang roti gandum:

1. Gandum justru bikin gemuk
Lho kok bisa? Gandum mengandung bahan kimia yang disebut amilopektin A, yang dapat dikonversi ke gula darah lebih cepat dari gula biasa. Dua potong roti nggak peduli seberapa banyak gandum itu dapat menyebabkan lonjakan gula darah lebih besar dari makan permen. Ketika gula darah naik dengan cepat kemudian turun dengan cepat juga, membuat kamu merasa lapar sehingga bakal merasakan "ngidam" dan makan lebih banyak.

Pada dasarnya, makanan yang meningkatkan gula darah membuat kamu merasa lapar. Jadi, menghilangkan roti dalam pilihan menu makanan akan membuat nafsu makan jadi berkurang. Makan lebih sedikit kalori menyebabkan penurunan berat badan? That's just simple math.

2. Bahkan jika kamu berolahraga secara teratur, gandum dapat menyebabkan risiko penyakit jantung
Bila kamu menambahkan karbohidrat tinggi untuk dietmu, maka akan terbentuk partikel kecil yang disebut lipoprotein, LDL, atau partikel lain yang menempatkan kamu pada risiko penyakit jantung atau stroke karena adanya peningkatan plak aterosklerosis. Jadi, meski kamu terlihat ramping dari waktu ke waktu dengan mengonsumsi gandum malah dapat menyebabkan peningkatan kerusakan plak ini dan juga menyebabkan lemak di perut atau lemak visceral, yang merupakan prekursor dari penyakit diabetes dan penyakit jantung.

3. Kondisi ladang gandum hari ini bukanlah ladang yang dulu pertama kali mulai bertani 
Benih gandum sebenarnya terlihat gemuk karena mereka telah berevolusi dari waktu ke waktu untuk bisa bertahan hidup, bahkan jika tanaman tidak diobati dengan organisme yang dimodifikasi secara genetik (GMO). Menurut Davis, benih bisa menciptakan apa yang disebut dengan "Frankengrains" dan belum diuji aman atau tidaknya.

4. Tapi kenapa harus gandum? Bukankah gandum rendah indeks glisemik?
Para pakar makanan biasanya menggunakan skala indeks glikemik untuk mengukur kecepatan perubahan makanan tertentu menjadi glukosa dalam darah saat dikonsumsi. Semakin tinggi nilai IG-nya, semakin "berbahaya" makanan tersebut untuk metabolisme tubuh. Tapi dengan mengonsumsi roti gandum justru membuat indeks glisemik kamu menjadi tinggi sehingga rentan terkena penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, dan obesitas.

Nggak hanya itu, semua gandum mengandung gluten dan dapat menyebabkan peradangan kronis bahkan kondisi degeneratif. Istilah roti gandum sebenarnya bisa dibilang mitos, seperti layaknya biji-bijian yang harus dipecah menjadi tepung untuk membuat roti. Meski terbuat dari biji-bijian yang mudah diserap selama proses pencernaa dalam tubuh, tapi cenderung menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam.

5. Gandum jauh lebih jahat untuk orang diabetes, bisa bikin lemak di perut lagi
Hidup orang yang mempunyai masalah diabetes harus diatur, terutama soal makan, tidak boleh kebanyakan, frekuensinya harus lebih sering tapi jumlah sedikit. Nah, gimana tuh? Diabetes tidak bisa disembuhkan tapi bisa diatur, yaitu  dengan mengatur kadar gula darah. Kalau orang diabetes mengonsumsi gandum justru membuat gula darah menjadi terlalu tinggi.

Belum lagi, beberapa dari roti yang kamu lihat di toko benar-benar telah disuntik dengan enzim rekayasa genetika yang disebut transglutaminase, yang bisa menjadi racun bagi beberapa individu. Roti yang terlihat pulen juga punya kemungkinan yang besar untuk diisi GMO seperti ini.

Kalau kamu pernah merasa kembung, mengantuk, atau perut terlalu penuh dengan makanan, sehingga kamu akhirnya memutuskan untuk makan makanan yang terbuat dari biji-bijian atau gandum alami, maka kamu telah mengambil langkah awal untuk menciptakan kembung konstan dan lemak di bagian perut. Jadi, menyerahlah pada roti gandum, kalau kamu ingin menurunkan berat badan terutama di bagian perut.

6. Label kemasan menjanjikan? Kandungan seratnya gimana?
Meskipun banyak pembuat roti mencantumkan label roti dari tepung gandum atau gandum utuh pada produknya, hal ini tidak bisa menjamin bahwa roti tersebut lebih sehat. Belum lagi landungan serat yang seharusnya kamu dapatkan dari roti gandum utuh menjadi tidak berarti lagi jika dibandingkan dengan bahan kimia dan emulsifier yang dicerna di dalam tubuh kamu. Tekstur roti gandum biasanya dipertahankan dengan menambahkan emulsifier.

Bisa kamu bayangkan jumlah tambahan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, yang sekaligus menambah jumlah kalorinya. Jadi, kalau niat kamu untuk mengonsumsi roti gandum hanyalah untuk mendapatkan seratnya, lebih baik kamu mengonsumsi sayuran dan buah-buahan seperti apel yang mengandung 3 gram serat (55 kalori).

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar