7 Masalah Yang Akhirnya Terpecahkan Berkat Ekplorasi Bumi Dari Luar Angkasa
Kamis, 31 Agustus 2017
ok nusantara
Bagikan

7 Masalah Yang Akhirnya Terpecahkan Berkat Ekplorasi Bumi Dari Luar Angkasa


1. Siapa yang 'menghabiskan' daya listrik

Anda mungkin lupa kalau dengan mudah satelit bisa memproduksi citra yang menggambarkan bagaimana kita masyarakat di Bumi menghasilkan listrik. Dari sini saja, terlihat dengan jelas, siapa-siapa saja yang biasa 'menghabiskan' listrik.

Uniknya tak cuma sekedar gambaran besar saja yang dilacak oleh NASAuntuk data ini. NASA juga ingin menganalisis apa yang mendorong bagaimana masyarakat menghabiskan listriknya, dan di momen apa. Satelit yang diluncurkan NASA di 2011 diluncurkanuntukkeperluan ini. Kemampuan satelit ini luar biasa, antara lain bisa membuat citra yang sangat detil seperti lampu kecil dari kapal nelayan di laut.

Hasilnya, terlihat bahwa masyarakat mengonsumsi listrik dengan tingkat yang luar biasa ketika musim libur. Di musim libur, masyarakat akan cenderung begadang, serta keluar rumah lebih banyakdengan menyalakan lampu seharian. Hal ini akan berbeda di tiap negara, dan tentu di tiap beberapa bulan akan ada liburan di belahan dunia tertentu.

Hal ini juga memberi gambaran detil soal peningkatan penggunaan energi dan dampaknya seperti perubahan emisi karbon sepanjang tahun, dan meningkatnya fluktuasi kebutuhan energi.siapa-yang-menghabiskan-daya-listrik.jpg

2. Berapa tingkat keasinan laut?

Tingkat keasinan laut diberbagaipenjuru lautan di Bumi tentu mustahil diukur manual. Namun dengan diluncurkannya satelit Aquarius oleh NASA, gambaran tingkat salinitas laut diberbagai perairan Bumi bisa didapatkan.

Aquarius berjarak 650 kilometer di atas permukaan laut, dan diprogramuntukmampu mengorbit mencakup seluruh perairan di Bumi selama tujuh hari.

Tak cuma kadar keasinan air laut diberbagaipenjuru laut, satelit ini bisa digunakanuntukmelacak arus air dan melihat seperti apa dampak pencairan gletser dan lapisan es di Bumi. Ssatelit ini juga bisa memetakan arus air tawar dan melihat bagaimana dua jenis campuran airberapa-tingkat-keasinan-laut.jpg

3. Melacak beruang kutub

Menelitiberuang kutub yang kini adalah satwa yang dilindungi dan jumlahnya terancam punah, ternyata adalah hal yang sangat sulit. Bagaimana tidak, iklim Arktik yang sangat dingin tentu jadi tantangan serius bagi ilmuwan.Akhirnya, luar angkasa adalah jawabnya.

Dari satelit, para ilmuwan secara khusus mencoba menentukan jenis dampak hilangnya es Arktik terhadap satwa liar yang hidupnya bergantung pada lapisan es. Dalam hal ini, para ilmuwan dengan mudah bisa mengamati populasi beruang kutub dan ke mana mereka pergi.

Meski demikian,berbagaidata asli ini tak selalu akurat, karena data visual di lapangan tentu akan lebih akuratmelacak-beruang-kutub.jpg.

4. Mengukur tarikan gravitasi

Tahukah Anda bila massa planet ini tidak konstan jika diukur pada titik yang berbeda. Hal ini berarti gravitasi juga berubah tergantung di mana Anda berada. Di kutub Bumi, hal ini akan sangat terasa, namun fluktuasi tarikan gravitasi juga terjadi di mana-mana.

Hal inilah yang ingin diketahui oleh ilmuwan, yang akhirnyameluncurkan satelit bernama GRACE. Para periset akhirnya dapat mengumpulkan gambaran akurat tentang seberapa banyak fenomena di Bumi yang mempengaruhi gravitasi. Akhirnya diketahui kalau lelehan es atau geseran gletser bahkan bisa mengubah gravitasi.

Dari satelit ini, juga bisa digambar sebuah peta dasar samudera yang lebih akurat, berdasarkan interaksi pegunungan bawah air dan tarikan gaya gravitasi.mengukur-tarikan-gravitasi.jpg

5. Melacak flora dan fauna lewat pemetaan hutan secara 3D

NASA tak cuma peduli soal proyek luar angkasa seperti ekslorasi Mars atau ambisimeneliti Jupiter, namun NASA juga inginmenelitiBumi kita. Terbukti dari salah satu programnya yang disebut Global Ecosystem Dynamics Investigation, atau GEDI. Diharapkan, satelit ini bisa membuat peta 3D dari hutan di Bumi.

Di satelit GEDI, akan ada serangkaian sensor optik dan laser yang akan di dipancarkan ke hutan, lalu dipantulkan lagi keangkasa.Dari kegiatan ini, tak cuma peta 3D yang didapatkan, namun juga hal yang lebih detil seperti umur tiap pohon di hutan.

Nantinya, peta ini akan diterjemahkan ke dalam peta yang lebih detil lagi, tentang bagaimana perubahan iklim berdampak pada hutan di seluruh dunia, berapabanyak karbon yang disimpan oleh pohon, dan seberapa sehat hutan dalam hal keanekaragaman hayati dan habitat hewanmelacak-flora-dan-fauna-lewat-pemetaan-hutan-secara-3d.png

6. Melacak tanah subur di muka Bumi

Lagi-lagi NASA-lah yang ingin meneliti tentang bagaimana keadaan Bumi dari luar angkasa. Kali ini, NASA menggunakan satelit untuk menjalankan misi bernama Soil Moisture Active Passive atau SMAP.

Dalam misi 3 tahun ini, satelit akan mengitari seluruh permukaan Bumi dari ketinggian dan melacak kelembapan tanah pada kedalaman 5 centimeter, yang tidak tertutup es atau air. Setiap area akan dipetakan tiap dua atau tiga hari, dan tiap jengkal di Bumi akan diketahui kondisi tanahnya. Hal ini akan dilakukan selama 3 tahun dan akan terlihat kesuburan tanah di Bumi.

Hal ini dilakukan demi efektivitas dalam bercocok tanam: memprediksi pola cuaca yang baik untuk mempengaruhi tanah, memprediksi waktu terbaik untuk menanam dan panen.

6. Melacak tanah subur di muka Bumi

Lagi-lagi NASA-lah yang ingin meneliti tentang bagaimana keadaan Bumi dari luar angkasa. Kali ini, NASA menggunakan satelit untuk menjalankan misi bernama Soil Moisture Active Passive atau SMAP.

Dalam misi 3 tahun ini, satelit akan mengitari seluruh permukaan Bumi dari ketinggian dan melacak kelembapan tanah pada kedalaman 5 centimeter, yang tidak tertutup es atau air. Setiap area akan dipetakan tiap dua atau tiga hari, dan tiap jengkal di Bumi akan diketahui kondisi tanahnya. Hal ini akan dilakukan selama 3 tahun dan akan terlihat kesuburan tanah di Bumi.

Hal ini dilakukan demi efektivitas dalam bercocok tanam: memprediksi pola cuaca yang baik untuk mempengaruhi tanah, memprediksi waktu terbaik untuk menanam dan panen.

6. Melacak tanah subur di muka Bumi

Lagi-lagi NASA-lah yang ingin meneliti tentang bagaimana keadaan Bumi dari luar angkasa. Kali ini, NASA menggunakan satelit untuk menjalankan misi bernama Soil Moisture Active Passive atau SMAP.

Dalam misi 3 tahun ini, satelit akan mengitari seluruh permukaan Bumi dari ketinggian dan melacak kelembapan tanah pada kedalaman 5 centimeter, yang tidak tertutup es atau air. Setiap area akan dipetakan tiap dua atau tiga hari, dan tiap jengkal di Bumi akan diketahui kondisi tanahnya. Hal ini akan dilakukan selama 3 tahun dan akan terlihat kesuburan tanah di Bumi.

Hal ini dilakukan demi efektivitas dalam bercocok tanam: memprediksi pola cuaca yang baik untuk mempengaruhi tanah, memprediksi waktu terbaik untuk menanam dan panen.melacak-tanah-subur-di-muka-bumi.jpg

7. Peta

Di atas, tentu kita sudahbanyak membicarakan tentang pemetaan mulai dari asinnya laut, gravitasi, tanah, hingga hutan. Sedikitbanyakkita abai soal apapun peta yang kita bisa lihat sekarang adalah hasil citra satelit atau rekaan citra satelit tersebut.

Bahkan, tak cuma peta yang ada di Google saja yang merupakan jasa satelit. Seperti kerjasama NASA dan pemerintah Jepang, satelit yang diluncurkan atas misi bernama ASTERbahkan bisa memberi peta yang resolusinya sangat tinggi. Peta ini padaakhirnyasangat berguna di bidang arkeologi karena para arkeolog bisa lebih mudahmendapatkantempat yang layak untukditeliti.

Tak cuma arkeologi, ASTER juga berjasa dalam hal monitoring erupsi vulkanik di tiap tempat dengan bahaya letusan gunung, pencegahan kebakaran hutan, pencegahan erosi; abrasi; dan juga kenaikan air laut, serta pencegahan dan penindakan penggundulan hutan.peta.jpg

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar