abdi dalem termuda keraton jogjakarta
Rabu, 29 Maret 2017
ok nusantara
Bagikan

abdi dalem termuda keraton jogjakarta



Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


bagi masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta, menjadi abdi dalem di Keraton adalah sebuah kebanggaan yang memiliki nilai martabat cukup tinggi. Menjadi abdi dalem merupakan wujud bakti luhur seseorang pada Kerajaan, Raja, dan kebudayaan Jawa. Abdi dalem sendiri biasanya didominasi oleh sosok berusia lanjut. Namun Rizki Kuncoro Manik mematahkan anggapan itu. Bocah berumur tujuh tahun tersebut telah mengabdikan dirinya di Keraton Kasultanan Yogyakarta sebagai seorang abdi dalem sejak umur 15 bulan.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Ya, Rizki Kuncoro Manik namanya. Nama yang berkesan sangat jawa tersebut diberikan oleh seorang kerabat Keraton Kasultanan Yogyakarta, yaitu almarhum GBPH. Joyokusumo atau yang lebih dikenal dengan Gusti Joyo. Rizki dilahirkan dengan nama asli Rizki Al Faris. Walaupun begitu, ia tak pernah mempersoalkan kedua nama yang ia punya itu.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Rizki Kuncoro Manik merupakan putra asli Kota Jogja. Sayangnya setelah ia lahir, kedua orang tuanya meninggalkan Rizki satu demi satu. Ayahnya pergi menghadap Sang Ilahi saat Rizki masih berada di dalam kandungan, sedangkan sang ibu pamit pergi ke Timur Tengah untuk bekerja mencari nafkah saat Rizki masih berusia sekitar tiga bulan. Namun, hingga saat saya bertemu dan memotret keseharian Rizki yang telah menginjak kelas satu Sekolah Dasar, sang ibunda belum pernah sama sekali kembali ke rumah.

Saat ini ia tinggal bersama kakeknya yang juga seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta bernama Suyatiman Cermo Wicara atau sering disapa Mbah Suyat. Mbah Suyat merupakan sosok seorang ‘ayah’ yang nyata di mata Rizki Kuncoro Manik. Pakde, begitu saya memanggil Mbah Suyat, merupakan salah satu abdi dalem senior Keraton yang telah mengabdi sejak tahun 1975, saat Keraton masih dipimpin oleh mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sangat legendaris itu.

Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Tak berbeda seperti anak-anak pada umumnya, Rizki Kuncoro Manik juga bersekolah di sekolah umum yang berada tak jauh dari rumah sang kakek. Sehari-harinya Rizki berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Ketika berada di dalam kelas, Rizki pun tak terlihat seperti layaknya seorang abdi dalem. Ia mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti teman-teman sebayanya. Guru-gurunya di sekolah pun tak pernah mengistimewakan dirinya dibanding dengan siswa yang lainnya.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Sepulang dari sekolah, barulah Rizki mulai memerankan perannya sebagai abdi dalem Keraton. Begitu tiba di rumah, seragam merah putih yang dikenakan Rizki langsung ditanggalkannya. Kemudian bersama sang kakek, dia berganti busana Jawa peranakan lengkap yang terdiri dari iket atau blangkon sebagai penutup kepala, tenun surjan sebagai pakaian atasan, stagen, kamus timang atau sabuk, jarik, lengkap dengan keris pusakanya dan tanpa beralas kaki. Usai berdandan, barulah sang kakek menyiapkan bekal yang didalamnya pasti terdapat botol berisi teh manis, minuman favorit Rizki. Sebelum berangkat, sang kakek terlebih dahulu menyiapkan sepeda onthel kesayangannya yang dipasang kursi rotan tambahan di belakangnya sebagai singgasana Rizki saat membonceng kakeknya.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Sang kakek sempat menceritakan kisah awal cucunya ini meminta ikut bersamanya ke keraton. Ketika itu Rizki Kuncoro Manik masih berusia sekitar satu setengah tahun. Kemudian ia matur pada sang kakek bahwa ingin ikut sowan ke dalam kompleks Keraton bersama dirinya dengan berbusana peranakan lengkap layaknya abdi dalem pada umumnya. “Pak, aku nderek sowan neng kraton karo bapak. Ningyo nganggo iket, njut nganggo jarik, nganggo stagen lan kamus timang, njut nganggo keris, komplit koyo bapak”, begitu Mbah Suyat menirukan ucapan Rizki dahulu saat pertama kali meminta ikut sowan ke Keraton bersama dirinya. Suyatiman sang kakek pun hanya sanggup mengiyakan permintaan Rizki kecil sambil mengurai senyum bahagia.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Sejak saat itu, Rizki Kuncoro Manik menjadi abdi dalem termuda yang pernah dimiliki Keraton Kasultanan Yogyakarta. Sama seperti abdi dalem yang lain, Rizki bersama Suyatiman kakeknya juga melakukan berbagai ritual adat seperti sowan bekti di depan Bangsal Kencono. Kegiatan sehari-harinya di dalam kompleks istana adalah merawat koleksi wayang milik Keraton. Namun apabila Keraton sedang memiliki hajat atau tengah menyelenggarakan sebuah acara dan prosesi adat, Rizki pun turut serta. Seperti pada saat diselenggarakannya Grebeg Keraton, Rizki bersama sang Kakek dan abdi dalem lainnya pun turut serta berjalan tanpa alas kaki mengawal gunungan Grebeg keluar dari Sitinggil melewati bangsal pagelaran Keraton Yogyakarta menuju Puro Pakualaman.

Di dalam lingkungan istana, Rizki Kuncoro Manik menjadi sosok orang di luar anggota keluarga Keraton yang sangat dekat dengan para keluarga raja. Dirinya seolah menjadi maskot idola seluruh anggota keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya GKR. Hemas. Mbah Suyat menceritakan bila tengah bertugas di kediaman Raja, apabila Sultan atau permaisuri, dan putri-putrinya yang tengah pulang ke Keraton dari bersekolah di luar negeri ketika melihat Rizki pasti menghampiri dirinya seraya mengelus atau mencubit gemas sembari memberi sangu untuk jajan.


Gambar terkait


Kepopuleran Rizki Kuncoro Manik tak hanya ada sebatas di lingkup keluarga raja saja. Rizki juga menjadi sosok idola di kalangan turis atau wisatawan yang sedang berkunjung ke Keraton. Hampir semua yang melihatnya baik turis asing maupun wisatawan domestik pasti selalu berebut untuk dapat berfoto bersamanya. Rizki pun dengan ramah selalu bersedia melayani permintaan foto bersama dari para ‘penggemarnya’ itu. “Sesekali dari sekian banyak yang minta foto pasti ada yang memberikan amplop untuk saya jajan” ujarnya sambil tertawa malu-malu.


Hasil gambar untuk abdi dalem termuda keraton yogyakarta


Di balik itu semua, seorang Rizki Kuncoro Manik merupakan sosok yang pendiam, lugu, dan santun pada siapa saja. Keakraban dengan lingkungan Keraton sejak usia belia telah membentuknya menjadi pribadi yang berbudi pekerti, menjunjung tinggi norma dan etika, serta tentunya memiliki selera rasa seni yang tinggi. Terbukti dirinya lebih banyak hafal tembang-tembang jawa dan cerita pewayangan ketimbang deretan lagu hits top 40 atau film kartun buatan negeri tetangga Upin Ipin. Ketika melakukan percakapan dengan orang lain pun Rizki selalu menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil, kasta bahasa Jawa halus yang paling tinggi. Ketika ditanya kalau dirinya sudah dewasa nanti mau jadi apa, ia mengatakan ingin menjadi seorang penari tari klasik, dalang, dan penabuh wiyogo atau penabuh gamelan.


Gambar terkait


Rizki Kuncoro Manik menjadi sosok langka generasi muda yang dengan penuh semangat dan rasa tulus untuk nguri-uri melestarikan kebudayaan Jawa. Pilihan mengabdikan hidupnya menjadi abdi dalem di lingkungan Keraton membawanya dirinya menjadi salah satu pelestari budaya yang cinta akan seni tradisi warisan tanah leluhurnya. Apabila Rizki Kuncoro Manik, bocah sekecil ini sudah berkarya nyata bagi bangsa dan budayanya, bagaimana dengan kamu?

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar