Belajar dari Saracen, Ini Cara Membentengi Diri dari Perkembangan Dunia Digital
Selasa, 05 September 2017
ok nusantara
Bagikan

Belajar dari Saracen, Ini Cara Membentengi Diri dari Perkembangan Dunia Digital

Terkuaknya kasus Saracen membunyikan sirene berbahaya akan rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal sebagai pengguna aktif Internet, sudah sepatutnya netizen juga pandai dalam menganalisa dan mengevaluasi informasi yang didapat seputar dunia maya. Nah, andaikan netizen pandai dalam mengkritisi informasi yang berseliweran di jejaring sosial, mungkin saja penyedia jasa untuk menyebarkan berita hoax seperti Saracen tidak berpeluang untuk menggurita.

Urgensi akan keahlian literasi digital telah lama didengungkan oleh para akademisi dan praktisi media secara global. Bahkan di beberapa negara, seperti Amerika dan Kanada, murid sekolah dasar telah belajar bagaimana memproteksi diri terhadap terjangan informasi internet. Literasi digital adalahbenteng terakhir untuk melindungi diri kamu dari informasi yang berkeliaran bebas di dunia maya. Pemerintah memang bertanggungjawab untukmemproteksi rakyatnya melalui regulasi seputar dunia maya dan menghukum siapa saja yang melanggar, seperti mengimplementasikan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik pada grup Saracen. Namun, tingkat literasi digital kamulah yang akan memainkan peranan krusial untuk mencegah kasus Saracen kembali terulang.

dunia digital

Digital literasi atau istilah awamnya melek media merupakankeahlian untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan membuat konten untuk media baik itu media sosial maupun tradisional (televisi, radio, koran dan majalah). Secara konsep, literasi digital mirip dengan melek huruf. Bedanya adalah literasi digital melatih kamu untuk membaca dan menulis konten dalam bentuk gambar (video dan foto), serta teks. Kamu juga dilatih untuk menganalisa dan mengevaluasi konten yang kamu baca dan tulis, serta bagaimanakah seharusnya kamu bereaksi terhadap informasi tersebut. Misalnya, ketika kamu membaca sebuah berita provokatif, bagaimana reaksi kamu. Apakah kamu marah dan melampiaskan kemarahan kamu dengan membagi informasi tersebut. Ataukah kamu mengkritisi kebenarannya, dan mengabaikannya karena menurut kamu informasi tersebut hoax? Tinggi atau rendahnya literasi digital bisa diukur dari sini, yaitu dari cara kamu bereaksi terhadap sebuah informasi.

dunia digital

Patut disadari, informasi yang kamu terima sangatlah kompleks. Bahkan dalam satu frame iklan, film maupun program televisi; termasuk satu post sederhana Facebook, memiliki makna tersirat maupun terselubung. Makna inilah yang harus kamu evaluasi dan analisa, agartujuan dari pembuatan konten media tersebut terungkap dan kamu tahu dengan pasti bagaimana seharusnya kamu bereaksi.

Ada lima pertanyaan yang bisa dijadikan refleksi saat kamu menerima informasi. Pertanyaan ini akan membantu untuk lebih pintar dalam bersosial media.

Siapa yang membuat informasi tersebut?

dunia digital

Dengan mengetahui pembuat informasi, kamu bisa mengetahui tujuan informasi itu dibuat. Contohnya, seorang filmmaker Indonesia lagi gencar-gencarnya berceloteh soal film terbarunya di Twitter. Alasannya film tersebut akan segera dirilis di bioskop. Jadi dengan teaser-teaser di Twitter, secara sengaja sang filmmaker sedang membangun animo masyarakat agar mau menonton filmnya.

Teknik apa yang dibuat untuk menarik perhatian kamu?

dunia digital

Kalau kamu perhatikan ada banyak cara yang dibuat para content maker untuk menarik perhatian publik. Seperti menggunakan animasi, infografis yang ciamik, atau video klip dengan gambar-gambar yang indah. Penggunaan kata yang provokatif juga termasuk sebuah upaya untuk menarik perhatian, seperti yang dilakukan penyebar berita hoax.

Bagaimana orang lain akan menginterpretasikan informasi ini?

dunia digital

Konsumen media, tentunya, memiliki pola pikir yang berbeda-beda dalam menginterpretasikan informasi. Untuk lebih jelasnya, kalau kamu pecinta teh, kamu tidak akan bereaksi saat melihat iklan kopi. Walau betapapun menariknya iklan kopi tersebut, kamu tidak akan tergerak untuk mencobanya. Sebaliknya, para pecinta kopi akan segera memburu kopi tersebut karena konten iklannya membuat pecinta kopi penasaran.

Apakah terdapat hal-hal yang tidak direpresentasikan dalam konten media tersebut?

dunia digital

Sadarkah kamu, mayoritas iklan rokok hanya menampilkan male talent. Jarang sekali sosok perempuan dihadirkan. Toh, kalaupun ada, sang perempuan tersebut hanyalah pemanis dan bukan pemeran utama. Alasannya adalah karena perokok perempuan bukanlah target pasar dari merek rokok tersebut; atau dikarenakan perokok perempuan jumlahnya sedikit sehingga tidak signifikan untuk dijadikan target iklan.

Kenapa informasi ini dibuat?

dunia digital

Pertanyaan ini mendorong kita untuk berpikir lebih jauh lagi, kenapa informasi ini dibuat. Berita hoax dibuat untuk tujuan tertentu seperti memecahbelah NKRI, atau membuat situasi masyarakat tidak kondusif, seperti kasus Saracen ini. Nah mengapa usaha untuk memecah belah NKRI begitu gencarnya sehingga melibatkan banyak tokoh. Mungkin saja jawabannya karena haus kekuasaan dan uang. Lalu bagaimana kita harus menanggapi berita seperti ini? Apakah akan kamu delete atau kamu bagikan? Motif dan alasan kamu untuk menghapusnya atau menyebarkannya sangat ditentukan dari kepiawaian kamu untuk mengkritisi informasi tersebut.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar