Fakta di Balik Masjid Raya Medan
Kamis, 23 Maret 2017
ok nusantara
Bagikan

Fakta di Balik Masjid Raya Medan

Fakta Tersembunyi Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan sejak dulu dikenal sebagai landmark utama dari ibukota Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini memang dikenal mempunyai arsitektur yang megah dan unik. Tak hanya itu, masjid ini pun juga merupakan sebuah masjid yang sudah berusia tua, lebih dari 1 abad.

Meski usianya yang sudah tua, Masjid Raya Medan ini ternyata masih berdiri dengan kokoh. Bahkan masjid ini pun menjadi pusat kegiatan umat Islam di kota Medan dan sekitarnya. Selain itu, banyak pula wisatawan dari luar kota Medan dan dari berbagai penjuru tanah air yang tertarik datang ke tempat ini untuk mengagumi kemegahan desain arsitekturnya.

img-1490243676.jpg

Dibangun oleh arsitek Belanda

Namun siapa sangka, ternyata Masjid Raya Medan yang megah ini bukanlah hasil kreasi asli dari masyarakat Medan. Menurut catatan sejarah, masjid kebanggaan rakyat Medan ini adalah masjid yang didesain oleh seorang arsitek asal Belanda yang bernama Van Erp. Dan dalam proses pembangunannya, Van Erp pun kemudian mempercayakan kepada sosok JA Tingdeman karena dia diminta ke Pulau Jawa untuk merestorasi candi Borobudur.

Desain unik Masjid Raya Medan ini pun memang berbeda dengan masjid – masjid lain yang ada di Indonesia. Masjid ini mempunyai bentuk oktagonal, sehingga mempunyai bagian dalam yang tidak biasa dan unik. Empat penjuru pada bagian masjid ini pun ditandai dengan atap yang tinggi serta kubah dengan warna hitam. Selain itu, masing-masing beranda yang ada di masjid ini pun dilengkapi dengan pintu masuk serta tangga penghubung.

img-1490243721.jpg

Pembangunan Masjid Raya Medan menggunakan bahan-bahan impor

Masjid Raya Medan ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awalnya, bangunan masjid ini termasuk satu kompleks bangunan dengan Istana Maimun. Masjid yang mempunyai bentuk oktagonal ini pun merupakan representasi dari berbagai elemen budaya, mulai dari budaya Timur Tengah, India serta terdapat pula corak budaya Spanyol.

Membangun masjid selama tiga tahun pun bukan waktu yang sedikit. Terlebih karena sebagian besar bahan baku bangunan dari Masjid Raya Medan ini merupakan bahan baku yang dibawa dari luar negeri alias bahan-bahan impor. Marmer yang dipakai sebagai dekorasi diimpor dari Italia dan Jerman. Sementara kaca patri didatangkan dari Cina. Terakhir, lampu gantung yang ada di dalam masjid ini diperoleh dari negara Prancis.

Dengan bahan baku yang mahal dan susah untuk didapatkan itu, tidak heran kalau pembangunan Masjid Raya Medan ini butuh biaya yang tak sedikit. Total dana sebesar 1 juta gulden pun digelontorkan, berasal dari berbagai sumber. Sebagian besar ditanggung oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, dan ada juga yang mengungkapkan adanya kontribusi dana yang dikeluarkan oleh saudagar kaya Cina, Tjong A Fie.

Wisata religi

Keberadaan Masjid Raya Medan ini pun menjadi daya tarik utama para wisatawan ke kota Medan. Terutama bagi wisatawan muslim, tempat ini pun kerap jadi persinggahan utama pada saat plesir ke kota multi etnis ini. Tak hanya itu, para wisatawan non muslim, terutama yang berasal dari luar negeri pun banyak yang menghabiskan waktunya untuk datang ke tempat ini. Entah itu untuk mengenal lebih dekat aktivitas masyarakat muslim atau sekadar mengagumi keindahan arsitektur masjid ini.

Peninggalan sejarah

Masjid ini pun dikenal sebagai salah satu peninggalan penting dari Kesultanan Deli. Seperti yang diungkapkan di atas, masjid ini dibangun oleh Sultan Maimun al Rasyid Perkasa Alamsyah. Masjid ini pun mempunyai beberapa nama. Mulai dari Masjid Al Mahsun, Masjid Raya Medan ini juga dikenal dengan nama Masjid Deli.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar