Hidangan Khas Keraton Yogyakarta
Minggu, 07 Mei 2017
ok nusantara
Bagikan

Hidangan Khas Keraton Yogyakarta

Hasil gambar untuk makan dan minuman yang disajikan dalam acara keratonan

Indonesia kaya akan cita rasa kulinernya, menjadikan negeri rempah ini surganya kuliner. Nah, pada penasaran gak, seperti apa sih makanan raja-raja dulu dan sekarang?

Berikut adalah kekayaan kuliner Indonesia yang tercipta dengan sejarah kerajaan yang kental. Apa saja?

Naniura (Tapanuli)



Masakan khas raja Batak ini sekarang dapat dengan mudah di temukan di daerah sekitar Danau Toba.

Yang istimewa dari Naniura adalah cara memasaknya yang perlu merendam si ikan segar, ke dalam air asam jungga atau jeruk purut.

Bumbu diatas ikannya pun tidak main-main wow nya, karena terdiri dari 10 macam bumbu khas nusantara seperti andaliman dan kecombrang.

Nasi Blawong (Yogyakarta)



Nasi Blawong ini sangat sakral lho, pasalnya, nasi ini selalu disajikan pada acara ulang tahun sejak jaman Sultan Hamengku Buwono I sampai sekarang.

Seperti yang terlihat, rupa Nasi Blawong berwarna agak kemerahan meski beras yang dipakai adalah beras putih. Warna tersebut tercipta dari aneka rempah yang digunakan saat menanak nasi. Sebagai lauknya umum terdapat ayam goreng bacem, telur pindang serta potongan daging bumbu kecap dilengkapi dengan peyek renyah dan telur rebus.

Bir Jawa (Yogyakarta)



Meskipun namanya "bir," sebenarnya minuman khas keraton ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Minuman bir jawa ini adalah hasil kreasi Sultan Hamengku Buwono VIII, yang terbuat dari campuran rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, kapulaga, serutan kayu secang, serai, daun pandan, jeruk nipis dan gula pasir. Rasanya sendiri dapat menghangatkan tubuh.

Wedang Wuh (Yogyakarta, Surakarta)



Wedang wuh, atau juga biasa ditulis wedang uwuh, adalah minuman yang juga bisa menghangatkan badan. Warnanya kemerahan akibat dari campuran rempah-rempahnya. Aromanya khas, dan rasanya yang enak dibadan ternyata bisa membuat kita merasa lebih segar.

Bebek Suwar Suwir (Yogyakarta)



Makanan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono IX ini konon katanya, merupakan kreasi yang beliau ciptakan sendiri saat masih menempuh studi di Belanda. Makanan berdaging bebek ini uniknya terletak pada penggunaan buah kedondong yang sangat jarang ditemukan sebagai pembuat saus. Gimana ya rasanya?

Urip-Urip Gulung (Yogyakarta)



Urip-Urip gulung adalah makanan kegemarang sultan Hamengku Buwono VIII dan IX, yang dibuat menggunakan fillet ikan lele yang digulung, lalu dipanggang dan disajikan dengan saus mangut.

Nasi Jemblung (Surakarta)



Nasi Jemblung merupakan kuliner kegemaran Pakubuwana X. Penataan nasi ini terlihat tidak lazim, ya? Mungkin penuh dengan sarat makna yang kita sendiri tak begitu faham. Nah ditengah-tengah nasi tersebut adalah semur lidah sapi yang terbuat dari bumbu campuran pala, cengkeh, dan saus kenari.

Coto Makassar



Kuliner khas kerajaan Gowa yang satu ini sudah benar-benar memasyarakat. Awalnya, Coto Makassar sendiri baru ada pada tahun 1538. Dalam masakan Coto Makassar terdapat 40 jenis rempah lho, yang pada masa itu, rerempahan tersebut hanya bisa diperoleh oleh kaum bangsawan dari raja-raja.

Bubur Pedas Melayu Deli (Medan)



Warisan khas Kesultanan Melayu Deli ini umumnya dihidangkan saat bulan Ramadan. Bubur pedas ini terbuat dari beras yang dimasak bersamaan dengan berbagai campuran rempah yang tidak umum yang terdiri dari jintan, serai, temu hitam, temu kunci, temu mangga, serta berbagai rerempahan lainnya. Sebagai lauk, terdapat potongan dada ayam dan udang segar. Kini, Bubur Pedas ini masih sering dihidangkan di masjid-masjid saat buka puasa tiba.

Nasi Bakepor (Kaltim)



Dulunya, nasi Bakepor adalah makanan para raja di Kutai Kartanegara. Nasi Bakepor yang penuh rempah ini biasa dimasak dalam kenceng atau kendil di atas bara api hingga matang. Benar-benar menggiurkan.

Nasi Bogana (Cirebon)



Nasi Bogana sudah ada sejak jaman Sunan Gunung Jati. Nasi ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang dibuat sejak masuknya Syiar Islam ke tanah Cirebon.

Docang (Cirebon)



Docang juga sarat akan nuansa dan cerita Islam. Menurut legenda, awal mulanya ada seorang pangeran yang tidak menyukai kegiatan dakwah para wali songo di tanah Jawa, termasuk Cirebon. Pangeran tersebut ingin menyudahi for good kegiatan tersebut, dengan cara menyuguhkan makanan ini ke para wali, setelah dibumbui dengan racun.

Tak disangka, bukannya terkena efek racun, para wali malah meminta untuk disajikan lagi makanan yang bercita rasa gurih dan segar ini.

Nah, gimana, kaya banget kan yah ragam kuliner kraton kita? Ini belum semua lho. Faktanya, terdapat buku yang berisi 100 resep masakan kraton berjudul "Warisan Kuliner Kraton Yogyakarta" yang ditulis oleh Raden Ayu Nuraida, istri almarhum Gusti Bendara Pangeran Haryo Joyokusumo (adik bungsu Sultan Hamengku Buwono X). Itu masih Yogya, belum yang dari daerah lainnya.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar