JLO, Sepotong Nirwana di Ekor Banua
Jum'at, 10 November 2017
ok nusantara
Bagikan

JLO, Sepotong Nirwana di Ekor Banua

 Tidak ada pasokan listrik PLN bukanlah hambatan dalam mengembangkan destinasi wisata. Hal ini dialami oleh masyarakat Desa Temajuk yang tetap gigih mengelola destinasi wisata agar menjadi pilihan para pelancong.

Temajuk sendiri merupakan desa terakhir yang posisinya persis di bagian ekor Kalimantan. Secara administratif, desa ini masuk dalam kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Pasokan listrik PLN di desa ini berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Listrik menerangi desa mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB keesokan harinya.

Namun, penerangan ini belum menjangkau semua titik, terutama untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pariwisata.

Tampak depan Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut
Tampak depan Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)

Meski dianugerahi panorama pantai dan perbukitan yang masih alami dan berkelas dunia, Temajuk belum sepenuhnya memiliki infrastruktur yang berstandar global.

Lantas, bagaimana masyarakat pelaku usaha pariwisata menyiasati keterbatasan tersebut?

Salah satu fasilitas akomodasi berkonsep homestay yang ada di Temajuk, Pondok JLO misalnya, dikelola dengan mengadopsi eco green.

Lokasinya yang berbukit dengan kemiringan kontur tanah sekitar 30 derajat menawarkan pemandangan laut, karena posisi homestay  dibuat di atas perbukitan.

Pengelola Pondok JLO, Frumensius Dominggo mengatakan, saat ini terdapat 7 pondok yang disewakan untuk pengunjung.

Bagian depan Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut
Bagian depan Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)

Desain pondok yang dibangun sejak tahun 2015 itu dibuat senyaman mungkin, dengan pendekatan alami, sehingga memungkinkan penggunaan energi berkelanjutan.

Ventilasi udara dibuat di sekeliling bangunan. Tujuannya untuk mendapatkan vitamin laut (sea) dan udara segar pada pagi hingga siang hari.

Ventilasi itu berfungsi selain untuk aliran sirkulasi udara, juga untuk mendapatkan udara segar dari pegunungan.

"Dengan ventilasi yang banyak, suhu kamar tetap nyaman untuk pengunjung, sekaligus menghemat listrik," ujar Frumensius pekan lalu.

Bagian teras Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut
Bagian teras Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)

Bagian dinding bangunan sebagian menggunakan kaca yang dilapisi sunproof, sehingga suasana interior homestay  terang benderang.

Selain itu, pada bagian atas bangunan, pengelola menggunakan atap transparan serta panel solar untuk membantu pencahayaan.

Energi dari panel solar ini mulai digunakan pada pukul 23.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Panel solar menghemat penggunaan energi fosil, karena genset hanya digunakan pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

"Setelahnya menggunakan panel solar untuk penerangan hingga pagi hari. Selain itu juga untuk mengurangi polusi suara pada malam hari ketika pengunjung beristirahat," jelas Frumensius.

Bagian teras rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.
Bagian teras rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)

Arah matahari terbit berada di belakang bangunan atau dari balik pegunungan dan matahari terbenam tepat menghadap depan. Pengunjung bisa menikmati surya tenggelam dari depan pondok.

"Konsepnya sama, kaca dan atap transparan untuk menghemat energi dari pagi hingga sore karena menggunakan penerangan alami," jelas Frumensius.

Konstruksi bangunan ini didominasi bahan dasar kayu yang dilapisi vernis, sehingga terkesan elegan.

Selain itu, terdapat tiga rumah pohon dengan desain atap yang unik membentuk seperempat lingkaran. Bagian dinding menggunakan kaca dipadu dengan bahan kayu. Pengunjung bisa dengan leluasa menikmati matahari terbenam dari atas rumah pohon ini.

Rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.
Rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.(Frumensius Dominggo)

Berdiri di atas lahan seluas 4 hektar dan berada di pinggir pantai, Pondok JLO dikelilingi taman dengan koleksi beragam jenis pohon berdaun rindang.

Kendati angin pantai panas, namun ketika berada di taman justru lebih sejuk. Belum lagi suara alam dari binatang-binatang kecil dan kicau burung yang berpadu dengan suara deburan ombak, menciptakan suasana bagai nirwana.

Pengelola mematok tarif Pondok JLO Rp 400.000 per malam dengan fasilitas dua tempat tidur berukuran besar kapasitas untuk empat orang. Kamar mandi yang disediakan di dalam pondok menggunakan air yang langsung mengalir dari pegunungan.

Tingkat kunjungan

Kendati menawarkan panorama alami dengan segala keunikannya, tingkat okupansi masih belum terlalu tinggi, berkisar antara 30 hingga 40 pengunjung dalam satu bulannya.

Bagian teras Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.
Bagian teras Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.(Frumensius Dominggo)

Namun, pengunjung yang datang bisa dibilang dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Pontianak. Termasuk turis mancanegara di antaranya dari Malaysia dan Belanda. Mereka biasanya rata-rata menginap selama dua malam saat di Temajuk.

"Untuk kunjungan sendiri masih sepi, akhir pekan atau hari libur baru terisi semua. Mungkin banyak yang belum tahu dan jalan yang masih belum baik," ungkap Frumensius.

Frumensius menambahkan, Pondok JLO ini dibangun oleh investor yang menurutnya cukup nekad. Ia enggan menjelaskan secara rinci siapa investor yang dimaksud.

Namun secara garis besar, total biaya untuk membangun tempat itu sudah menghabiskan sekitar Rp 400 juta.

Rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.
Rumah pohon Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut, tempat yang menyenangkan untuk menikmati matahari terbenam.(Frumensius Dominggo)

Sang investor memang menargetkan tamu yang datang menginap berasal dari negara luar, terutama dari Malaysia, sehingga konsep penataan juga menyesuaikan kebutuhan tersebut.

"Yang jelas, awalnya karena ada permintaan dari teman-teman fotografer yang suka ke Temajuk dan membutuhkan tempat yang nyaman untuk istirahat setelah hunting foto," katanya.

Meski sudah tertata sedemikian rupa, akses menuju Temajuk bisa dibilang gampang-gampang susah. Dari ibukota Kabupaten Sambas, terdapat dua jalur menuju ke Temajuk.

Salah satunya adalah jalan paralel yang saat ini sedang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama TNI.

Bagian dalam Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut
Bagian dalam Pondok JLO yang posisinya menghadap ke arah laut(KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN)

Butuh waktu sekitar 3 jam dari Sambas dengan melewati rute ini melewati Sajingan via Sungai Bening hingga ke Temajuk.

Jalur paralel ini juga terhubung dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Aruk menuju Temajuk hanya berkisar dua jam dengan kondisi jalan saat ini.

Sebenarnya dari Malaysia ada jalur yang lebih dekat, yaitu Kampong Teluk Melano yang berada bersebelahan dengan Temajuk. Jarak nya hanya empat kilometer saja. Tapi tidak ada pos pemeriksaan imigrasi di sana.

Dari Kuching menuju Telok Melano cukup menempuh waktu 1,5 jam saja. Sedangkan jalur satunya merupakan jalur lama yang kondisinya rusak parah dan harus dua kali menyeberangi sungai besar menggunakan kapal feri.

Jarak tempuh dari Sambas pun tergantung cuaca, berkisar antara empat hingga lima jam perjalanan.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar