Kecam Sanksi PBB, Korut Ancam AS Akan Alami Rasa Sakit Terbesar
Rabu, 13 September 2017
ok nusantara
Bagikan

Kecam Sanksi PBB, Korut Ancam AS Akan Alami Rasa Sakit Terbesar

Otoritas Korea Utara (Korut) mengecam resolusi baru Dewan Keamanan PBB yang menerapkan sanksi-sanksi lebih keras terhadap negeri komunis itu. Korut bahkan mengingatkan AS akan segera menghadapi "rasa sakit terbesar" yang pernah dialaminya.

"Rezim Washington yang memicu konfrontasi politik, ekonomi dan militer, terobsesi dengan permainan liar untuk menghentikan perkembangan kekuatan nuklir DPRK (singkatan nama resmi Korut) yang telah mencapai tahap penyelesaian," tutur Duta Besar Korut Han Tae Song yang berbicara di pertemuan Konferensi Perlucutan Senjata yang disponsori PBB di Jenewa, Swiss, seperti dilansir kantor beritaReuters, Selasa (12/9/2017).



Tanpa menjelaskan lebih rinci, Han mengatakan bahwa Korut "siap menggunakan sebuah bentuk cara-cara terakhir".

"Langkah-langkah mendatang oleh DPRK akan membuat AS menderita rasa sakit terbesar yang pernah dialaminya sepanjang sejarahnya," cetusnya.

Dewan Keamanan PBB pada Senin (11/9) waktu setempat secara bulat mengadopsi resolusi yang disusun oleh Amerika Serikat, mengenai penerapan sanksi-sanksi baru terhadap Korea Utara (Korut) menyusul uji coba nuklirnya belum lama ini. Resolusi ini diadopsi pada Senin (11/9) waktu setempat dengan suara bulat oleh keseluruhan 15 negara anggota DK PBB, termasuk China dan Rusia yang merupakan sekutu Korut.

Resolusi ini mengatur tentang penerapan larangan ekspor tekstil Korut dan pembatasan impor minyak mentah. Ini merupakan resolusi sanksi ke-9 terhadap Korut, yang diadopsi secara bulat oleh ke-15 negara anggota DK PBB sejak tahun 2006 atas program rudal dan nuklirnya.

"Kami tidak merasa senang dalam memperkuat sanksi-sanksi hari ini. Kami tidak mencari-cari perang," kata Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley kepada DK PBB usai voting seperti dilansir kantor beritaReuters,Selasa (12/9/2017).

Sepekan lalu, Haley menyerukan sanksi-sanksi paling keras terhadap Korut. Namun setelah berhari-hari negosiasi, Washington membatalkan sejumlah usulan sanksi demi mendapatkan dukungan Rusia dan China. Usulan sanksi yang dibatalkan itu termasuk embargo minyak dan pembekuan aset pemimpin Korut Kim Jong-Un serta larangan perjalanan untuknya.

Sesuai resolusi baru ini, maka kini Korut dilarang mengeskpor tekstil -- ekspor terbesar keduanya setelah batubara dan mineral lainnya pada tahun 2016, yang berjumlah total US$ 752 juta, menurut data dari Badan Promosi Perdagangan-Investasi Korea. Hampir 80 persen ekspornya ditujukan ke China. Resolusi ini juga menerapkan pembatasan ekspor minyak mentah ke Korut. China memasok sebagian besar minyak mentah Korut.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar