KERANG RAKSASA
Selasa, 21 Februari 2017
ok nusantara
Bagikan

KERANG RAKSASA

Kima: kerang raksasa yang semakin langka

Jika sahabat ingin menghabiskan akhir pekan atau liburan dengan kegiatan yang menyenangkan, tak ada salahnya untuk sesekali mencoba menikmati pemandangan bawah air dengan bersnorkelling atau menyelam.

Selain menyehatkan, pemandangan bawah laut akan menyegarkan kembali otak kita, yang mungkin telah jenuh, setelah beraktifitas selama sepekan atau sebulan penuh.

Pemandangan bawah air seperti daerah terumbu karang, tidak kalah indahnya dibandingkan dengan pegunungan atau hutan rimba, bahkan jauh lebih berwarna-warni.

Terumbu karang dengan bentuknya yang beraneka ragam, ikan-ikan berwarna-warni indah yang berenang di sela-sela karang, anemon dengan rumbai-rumbai tentakelnya yang menari-nari mengikuti irama arus, terlihat sangat indah dan menghipnotis, seolah-olah membawa kita ke dunia lain.

Gambar 1. Kima di antara celah terumbu karang. 

Seringkali, saat menyelam atau bersnorkelling di suatu rataan terumbu, kita akan menemukan biota laut yang berwarna-warni sangat cerah, terselip di antara celah-celah karang.

Saat didekati atau disentuh, hewan tersebut akan mengatupkan cangkangnya. Hewan ini dikenal sebagai kima atau kerang raksasa, salah satu makhluk laut yang memiliki peran vital dalam ekosistem bahari.

Gambar 2.Warna mantel yang sangat indah 

Morfologi Kima

Kima termasuk dalam kelas Bivalvia, suatu kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup. Bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran yang berlapis-lapis.

Alat gerak berupa kaki perut yang termodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis, melekatkan diri pada substrat berbatu dengan semacam rambut atau organ yang disebut byssus.

Gambar 3. Bagian-bagian cangkang 

Cangkang kima terbagi menjadi beberapa lekukan atau lipatan (folds). Punggung  lipatan di permukaan cangkang biasanya berbentuk seperti tulang rusuk sehingga sering disebut rib. Pada kima sisik, kima lubang dan kima Mauritius, tiap punggung lipatan memuat sebaris lempeng-lempeng berbentuk setengah mangkok yang disebut sisik (scutes). Sisik ini dulunya adalah bagian tepi dari mulut atau bibir cangkang (upper margin) yang kemudian tertinggal saat cangkang tubuh membesar (Gambar 3).

Pada kima, kedua bilah cangkang disatukan oleh ligamen/semacam jaringan otot fleksibel yang disebut hinge. Di samping ligamen ini terdapat semacam pusat atau titik awal pertumbuhan cangkang yang disebut umbo.

Disamping umbo terdapat semacam lubang tempat keluarnya organ pelekat (byssus) yang disebut bukaan byssus (byssal opening). Untuk lebih jelasnya, bagian-bagian cangkang kima dapat dilihat pada Gambar 3 di atas.

Di antara semua jenis kerang, kima adalah salah satu kerang dengan bentuk dan ciri yang paling unik. Ukuran cangkangnya sangat besar dan berat, sehingga disebut kerang raksasa (giant clam). Mantelnya yang memiliki sistem sirkulasi khusus, menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae,  makhluk aneh separuh hewan dan separuh tumbuhan yang berbulu cambuk dari marga Symbidinium.

Makhluk bersel tunggal ini, mampu menghasilkan makanannya sendiri, melalui proses fotosintesis dengan memanfaatkan karbondioksida, fosfat dan nitrat yang berasal dari sisa metabolisme kima.

Gambar 4. Zooxanthellae yang hidup sebagai endosimbion di jaringan mantel Kima

Selain pasokan bahan mentah, zooxanthella mendapat keuntungan lain karena mantel kima menjadi tempat yang nyaman untuk bernaung, berlindung dan berfotosintesis.

Zooxanthella jugalah aktor di balik layar, yang menentukan warna-warni indah dari mantel kima. Setiap kima, memiliki warna dan corak motif yang berbeda, tergantung pada spesies Symbidinium yang menjadi pasangannya.

Kima sendiri mendapatkan keuntungan, karena zooxanthellae memberinya tambahan nutrisi yang disalurkan melalui sistem saringan makanan (filter food) si Kima.  Jadi, meskipun lingkungan perairan di sekitar kima sangat miskin unsur hara, kerang raksasa ini masih dapat tumbuh dengan baik.

Reproduksi Kima

Kima termasuk jenis kerang yang bersifat hermafrodit sehingga satu individu dapat menghasilkan sperma dan sel telur. Akan tetapi, proses pematangan keduanya tidak terjadi secara bersamaan, sehingga perkawinan antara sperma dan telur dari satu individu tidak akan terjadi. Sperma dari satu individu akan membuahi sel telur yang dihasilkan oleh kima lain.

Cangkang yang besar dan berat tidak memungkinkan bagi kima untuk berpindah tempat, sehingga kima memiliki mekanisme yang unik untuk bereproduksi. Kima melakukan pembuahan secara eksternal dengan melepaskan sperma dan sel telur ke perairan di sekitarnya.

Agar waktu pelepasan sperma dan sel telur ini terjadi secara bersamaan, maka kima yang satu akan mengirimkan pesan secara kimiawi kepada kima lainnya dengan melepaskan semacam zat kimia yang bersifat merangsang pemijahan. Zat kimia ini disebut SIS (Spawning Induced Substance).

SIS dilepaskan melalui siphon excurrent. Zat kimia ini akan mengalir mengikuti arus dan dapat “dibaca” oleh kima lainnya melalui suatu chemoreseptor yang terdapat di siphon incurrent.

Pesan kemudian diteruskan ke ganglia cerebral yang berfungsi sebagai otak sederhana pada kima. Setelah pesan kimia ini sampai pada kima-kima lainnya, terjadilah pelepasan sperma dan sel telur secara bersamaan. Jadi, dalam hal ini, kima melakukan kawin massal.

Gambar 5.Kima raksasa memijah (kiri). Dua orang penyelam sedang mengukur panjang cangkang Kima Raksasa (kanan). 

Tingkat keberhasilan pembuahan secara eksternal lebih kecil dibandingkan pembuahan internal. Faktor lingkungan seperti kuat arus sangat berpengaruh terhadap distribusi sperma dan sel telur. Demikian pula dengan keberadaan pemangsa.

Banyak jenis ikan dan biota laut lainnya yang gemar memakan telur-telur kima, karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

Untuk memperbesar tingkat keberhasilan, kima akan melepaskan sel telur sebanyak-banyaknya ke perairan sekitarnya. Tridacna gigas misalnya dapat melepaskan telur hingga lebih dari 500 juta butir dalam satu kali musim memijah. Telur ini berdiameter sekitar 100 mikron.

Umumnya, proses pemijahan berlangsung selama pasang tinggi saat bulan purnama atau bulan baru. Telur dan sperma akan dilepaskan sedikit demi sedikit dengan interval 2-3 menit selama  30 menit hingga dua setengah jam.

Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi larva (trocophore)  setelah 12 jam. Larva ini akan membentuk cangkang kapur. Saat berumur 2 hari, larva akan membentuk kaki yang digunakan untuk bergerak ke dasar perairan dan berenang mencari lokasi yang cocok.

Selama beberapa pekan pertama, larva akan bergerak untuk mencari tempat yang sesuai. Jika mendapatkan tempat yang dirasa cocok, larva akan menempel di lokasi tersebut untuk seumur hidupnya.

Larva kima belum memiliki zooxanthella dalam tubuhnya sehingga masih mengandalkan plankton sebagai sumber makanan. Zooxanthella yang terbawa arus dan masuk kedalam sifon kima akan dikumpulkan dan disimpan di dalam jaringan mantel sedikit demi sedikit.

Dari jutaan larva yang hidup, hanya sebagian kecil yang dapat tumbuh hingga fase juvenil. Kima akan menjadi juvenil saat ukurannya mencapai 20 cm. Kima raksasa akan terus membesar dengan laju pertumbuhan 12 cm per tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun.

Jenis-Jenis Kima

Saat ini tercatat 10 jenis kima yang tersebar di perairan tropis di Samudera India dan Pasifik. Marga Tridacna meliputi 8 jenis dan marga Hippopus hanya terdiri dari 2 jenis.

Indonesia merupakan daerah pusat penyebaran kima di dunia. Sebanyak 7 spesies kima dapat ditemukan di perairan nusantara. Tiga jenis lainnya termasuk jenis kima endemik yang tidak umum dan tersebar di luar Indonesia, yaitu: Kima Laut Merah, Kima Mauritius dan Kima Iblis/Tevoro dari Kepulauan Fiji dan Tonga.

Sepuluh spesies kima yang ada di dunia, adalah:

Subgenus Tridacna (Chametrachea)

  • Tridacna costata Richter, Roa-Quiaoit, Jantzen, Al-Zibdah, Kochzius, 2008
  • Tridacna crocea Lamarck, 1819
  • Tridacna maxima Röding, 1798 (=Tridacna elongata)
  • Tridacna rosewateri Sirenho & Scarlato, 1991
  • Tridacna squamosa Lamarck, 1819

Subgenus Tridacna (Tridacna)

  • Tridacna derasa Röding, 1798
  • Tridacna gigas Linnaeus, 1758
  • Tridacna tevoroa Lucas, Ledua & Braley, 1990 (=Tridacna mbalavuana)

Genus Hippopus

  • Hippopus hippopus (Linnaeus, 1758)
  • Hippopus porcellanus (Rosewater, 1982)

1. Kima Laut Merah (Red Sea or Ribbed Giant Clam)Tridacna costata Richter, Roa-Quiaoit, Jantzen, Al-Zibdah, Kochzius, 2008

Tridacna costata adalah spesies terbaru dari kima (kerang raksasa) yang ditemukan tahun 2008. Kima ini, pertamakali diidentifikasi oleh sebuah tim yang diketuai Dr. Claudio Richter, seorang peneliti ekologi laut dari Alfred Wegener Institut for Marine and Polar Research (AWI) Bremenhaven Jerman, setelah melalui serangkaian riset di Laut Merah.

Dr. Hilly Ann Roa-Quiaoit, peneliti dari Departemen Biologi, Universitas Xavier sekaligus direktur McKeough Marine Center di Cagayan de Oro City, Philippines, adalah orang yang pertama kali “mencurigai” sampel kima yang aneh ini sebagai spesies baru.

Oleh Marc Kochzius (peneliti dari Universitas Bremen) kemudian dilakukan analisis genetik. Hasil analisis ini selanjutnya dibandingkan dengan jenis kima lain. Kesimpulannya, kima tersebut adalah spesies baru yang dipublikasikan melalui jurnal Current Biology edisi 28 Agustus 2008.

Gambar 6. Kima Laut Merah 

Ciri kima ini sangat unik, berupa garis-garis melengkung yang bentuknya seperti tulang rusuk, di permukaan cangkang. Pola garis, berasal dari bekas sisik cangkang (scutes).

Ciri unik lainnya adalah bentuk khas dari tepi/bukaan cangkang yang memiliki pola seperti zig-zag (Gambar 6 kiri). Costata berasal dari bahasa latin yang artinya menyerupai tulang rusuk (costa= tulang rusuk).

Dari fosil cangkang yang ditemukan,  peneliti menduga bahwa kerang raksasa ini telah ada semenjak 125.000 tahun yang lalu. Panjang cangkang dapat mencapai 40-60 cm dengan berat hingga beberapa kg. Kima ini hidup di perairan yang sangat dangkal hingga perairan yang agak dalam.

Musim memijah lebih awal dan lebih singkat dibandingkan dengan jenis kima lainnya. Masa memijah, bersamaan dengan saat terjadinya ledakan populasi plankton yang terjadi pada waktu tertentu, setiap tahun.

Gambar 7. Cangkang Kima Laut Merah 

Banyaknya fosil cangkang Tridacna costata yang ditemukan di sepanjang pesisir laut merah serta luasnya daerah sebaran cangkang, menunjukkan bahwa kima ini, dahulunya memiliki populasi yang sangat banyak, dan mendominasi laut merah.

Namun, populasi kima ini menurun drastis akibat eksploitasi yang berlebihan dari masyarakat pantai Laut Merah, semenjak beribu-ribu tahun yang lalu. Jenis kima ini, selain berukuran besar, juga hidup di perairan yang dangkal sehingga menjadi sumber protein yang mudah dikumpulkan oleh penduduk setempat.

Gambar 8. Daerah sebaran Kima Laut Merah 

Penemuan spesies Tridacna costata ini sangat mengejutkan para ahli Biologi Kelautan, mengingat Laut Merah yang menjadi lokasi ditemukannya kerang raksasa ini, termasuk daerah perairan yang telah di survei dengan baik, sehingga memiliki database biota laut yang lengkap.

Saat ini, populasi kima ini sudah sangat sedikit (jarang) sehingga masuk dalam kategori kritis (critically endangered).

2. Kima Lubang/Kunia (Boring or Crocus Clam)  Tridacna crocea Lamarck, 1819

Kima lubang adalah jenis kima terkecil dan memiliki populasi yang paling melimpah. Kima ini umumnya hidup di dalam lubang-lubang karang keras (hard coral) yang masih hidup ata mati.

Kima lubang masuk ke dalam karang secara kimiawi dan mekanis, yaitu mengebor karang perlahan-lahan dengan gerakan membuka dan menutup cangkang. Kima lubang memiliki warna mantel yang menyolok dan indah. Panjang maksimum kima ini hanya mencapai 15 cm saja.

Gambar 9. Kima Lubang Tridacna costata. 

Cangkang kima lubang berbentuk pipih dan tebal dengan 6-10 lipatan. Bentuk cangkangnya tidak beraturan karena harus mengikuti bentuk lubang yang ada di karang. Aktifitas memboring, menyebabkan kima yang berasal dari alam, umumnya tidak memiliki sisik cangkang yang utuh.

Sedangkan kima lubang yang dipelihara di akuarium, memiliki sisik cangkang yang lengkap. Mantel kima lubang dikenal memiliki warna-warni yang sangat indah  sehingga menjadi salah satu biota favorit untuk akuarium air laut.

Gambar 10. Kima Lubang di habitat aslinya

Kima lubang mulai melekat di permukaan substrat berupa karang keras saat masih berbentuk juvenil dengan ukuran 4-20 mm (Kawaguti, 1983 and Suzuki, 1998). Selembar jaringan mantel yang keluar dari bukaan byssus di dasar cangkang berfungsi sebagai alat perekat yang sifatnya permanen. Jaringan mantel di dasar cangkang juga menghasilkan asam lemah yang dapat melunakkan/melarutkan zat kapur (CaCO3) sehingga lama kelamaan permukaan karang keras pun berlubang.

Setelah berada di dalam lubang, kima ini tetap terus mengeluarkan asam lemah untuk melunakkan zat kapur di sekeliling cangkangnya (Hedley, 1921). Gerakan mekanis membuka dan menutupnya cangkang ini akan menggerus bagian karang yang telah rapuh sehingga lubang pun semakin bertambah besar (Yonge, 1936 and Hamner & Jones, 1976).

Kima lubang hanya melekat satu kali di dalam lubangnya untuk seumur hidupnya. Jika kima ini diambil dan dipindahkan ke akuarium, maka perlekatan dengan substrat keras tidak akan pernah terjadi lagi. Kima  yang sudah besar tidak dapat membuat lubang.

Jaringan mantel yang besar di bagian atas juga memiliki kemampuan untuk menghasilkan asam lemah yang mampu melarutkan zat kapur  karang (e.g., de Zwaan, 1977 and Lutz & Rhodes, 1980).

Populasi Kima lubang sangat melimpah di habitatnya. Di Great barrier reef Australia, daerah karang otak seluas 1 m persegi dapat memuat antara 100 hingga 200 kima lubang dengan berbagai ukuran (Hamner 1978, Hamner & Jones 1976).

Kima lubang menempati habitat perairan yang paling dangkal dari 0 hingga 8 m di bawah permukaan laut. Kima ini juga tahan saat berada dalam kondisi surut terendah. Cangkangnya dapat menutup dengan rapat dan sempurna sehingga dapat mempertahankan kandungan air di dalam cangkang, saat terpapar matahari dan atau terekspose udara terbuka.

Gambar 11. Beberapa macam warna kima Lubang di tangki budidaya.

Kima lubang memiliki laju pertumbuhan yang paling lambat dibandingkan dengan jenis kima lainnya. Ukuran cangkangnya hanya bertambah 1-2 mm setiap bulan. Bandingkan dengan Kima raksasa Tridacna gigas yang dapat tumbuh hingga 10 mm setiap bulan.

Di Indonesia, kima lubang masih dapat ditemukan dalam jumlah yang melimpah. Ukuran yang kecil dan sulitnya mengambil kima dari dalam lubang-lubang karang, membuat kima ini kurang populer dibandingkan dengan jenis kima lainnya.

Di Guam dan Kepulauan Mariana, kima lubang telah punah akibat eksploitasi yang berlebihan untuk bahan makanan laut (Seafood) dan akuarium air laut. IUCN (2006), memasukkan kima lubang dalam status beresiko rendah dari kepunahan (Least Concern).

Gambar 12. Daerah sebaran kima Lubang Tridacna crocea. 

Cangkang kima kecil umumnya ditemukan di daerah terumbu karang dengan kedalaman hingga 10 m. Kima ini melekat di antara celah karang atau pecahan karang (rubble) dengan bantuan organ serupa rambut yang disebut byssus.

Seringkali, kima kecil menggali pasir atau dasar substrat dengan gerakan membuka-menutup cangkang untuk berlindung. Spesimen terbesar dari cangkang Tridacna maxima yang pernah tercatat adalah 41,7 cm.

Gambar 13. Kima kecil Tridacna maxima.

Cangkang kima kecil berbentuk asimetris dan memiliki 5 lengkungan (ribs). Permukaan lengkungan tersusun dari deretan sisik kecil yang teratur.

Sisik kima kecil yang hidup di alam umumnya sudah tidak lengkap karena aus, saat cangkangnya yang melakukan gerakan buka-tutup, bergesekan dengan batu karang di sampingnya.

Saat menghadapi ancaman, kedua cangkang kima kecil dapat menutup dengan sempurna. Tentakel kecil dalam jumlah banyak, ditemukan di sekeliling siphon incurrent, tempat masuknya air. Mantel kima kecil dapat mengembang hingga melewati tepi cangkang.

Dari morfologi cangkangnya, kima kecil memiliki bentuk yang menyerupai kima lubang Tridacna crocea. Analisis genetik menunjukkan, kima kecil memiliki variabilitas genetik yang rendah.

Gambar 14. Kima kecil Tridacna maxima.

Kemampuan yang tinggi dari larva planktonik kima kecil untuk terdispersi, menyebabkan spesies ini memiliki daerah sebaran paling luas dibandingkan jenis kima lainnya.

Kima kecil dapat ditemukan mulai dari terusan Suez, Aqaba, Teluk Persia, ke selatan hingga Durban, Kepulauan Nusantara, Jepang selatan, Australia, Kepulauan Lord Howe dan terus ke timur hingga kepulauan Pitcairn. Kima kecil tidak ditemukan di Hawaii dan Pulau Easter.

Gambar 15. Daerah sebaran kima kecil 

4. Kima Rosewater/Kima Mauritius (Rosewater’s or Mauritius Giant Clam) Tridacna rosewateri Sirenho & Scarlato, 1991

Kima Rosewater adalah jenis kima endemik Mauritius yang sangat langka. Kima ini memiliki sisik cangkang yang sangat besar. Tepi cangkangnya tipis, berbentuk zig-zag serta dapat menutup dengan sempurna.

Secara umum, ciri-cirinya hampir sama dengan Kima sisik Tridacna squamosa. Tidak banyak aspek biologi yang dapat diketahui dari kima ini, mengingat lokasi habitatnya yang terpencil dan populasinya yang sangat jarang. Mungkin hanya segelintir orang saja yang beruntung, dapat melihat spesies ini di habitat aslinya.

Gambar 16. Cangkang Kima Mauritius

Kima Rosewater atau kima Mauritius memiliki daerah sebaran yang sangat terbatas dan hanya ditemukan  di daerah gosong/gusung Saya de Malha, Massacring plateu, Mauritius (sebelah timur Madagaskar) pada kedalaman 12-13 m, seperti yang ditunjukkan dalam bentuk noktah kuning pada Gambar 17 di bawah ini.

Gambar 17. Daerah sebaran Kima Mauritius 

Kima sisik memiliki cangkang yang sedikit asimetris dengan bibir atau tepi bukaan cangkang bergelombang. Pada punggung lipatan, ditemukan deretan lempeng sisik (scutes) tinggi, agak sempit dan cekung.

Bentuk cangkang bersisik seperti ini juga ditemukan pada kima kecil Tridacna maxima dan Kima Mauritius. Bedanya, sisik pada T. maxima ukurannya juga lebih kecil. Sedangkan sisik pada kima Mauritius lebih lebar dan besar dengan tepi bukaan cangkang berbentuk zig-zag.

Bukaan byssus di bagian bawah cangkang (dekat umbo) biasanya berukuran lebih kecil dibandingkan dengan spesies kima lainnya.

Gambar 18. Kima Sisik 

Mantel umumnya berwarna coklat diselingi pola tak beraturan berwarna putih. Seringkali, mantel berwarna jingga, hijau atau kuning bergantung pada jenis alga bersel satu yang menjadi simbionnya.

Kima sisik dapat tumbuh hingga 40 cm. Gambar mantel kima sisik beserta cangkangnya, dapat dilihat pada Gambar 18 di atas.

Kima sisik seringkali dipelihara di akuarium air laut bersama dengan ikan hias lainnya. James Fatherree, seorang ahli kima dan akuaris, menyarankan agar kima sisik tidak dicampur dengan anemon dalam satu akuarium, sebab anemon dapat menyengat dan memakan jaringan mantel sang kima.

Gambar 19. Daerah sebaran Kima Sisik

Kima sisik memiliki daerah sebaran yang luas di Samudera India dan Pasifik. Di Indonesia, populasi kima sisik masih ditemukan dalam jumlah yang cukup melimpah.

6. Kima Selatan (South China Clam) Tridacna derasa (Röding, 1798)

Kima selatan memiliki bentuk cangkang yang simetris. Cangkangnya polos tanpa sisik dengan 5 hingga 7 lengkungan (ribs). Lubang byssus berukuran kecil. Mantel dapat mengembang hingga keluar dari tepi cangkang.

Dua tangkup cangkang dapat menutup sempurna. Siphon incurrent dikelilingi oleh tentakel yang besar dan banyak. Juvenil kima selatan memiliki ciri menyerupai kima raksasa sehingga sangat sulit dibedakan.

Gambar 20. Kima Selatan 

Kima selatan memiliki sebaran yang terbatas dan unik.  Di Indonesia, jenis ini hanya ditemukan di sebelah timur garis Wallace yang memanjang dari Selat Bali, Selat Makassar hingga Laut Sulawesi.  Jenis ini juga banyak ditemukan di pesisir barat laut dan timur laut Australia.

Gambar 21. Daerah sebaran Kima Selatan 

7. Kima Raksasa (Giant Clam) Tridacna gigas Linnaeus, 1758

Kima raksasa adalah spesies kerang terbesar di dunia yang masih hidup. Ukuran cangkang kerang ini dapat mencapai 120 cm dengan berat lebih dari 200 kg. Jika tidak terganggu, kima raksasa dapat hidup hingga berumur lebih dari 100 tahun.

Rekor spesimen Tridacna gigas terbesar, dipegang oleh cangkang kima asal Indonesia, tepatnya dari Pantai Barat Tapanuli, Sumatera Utara. Ukuran panjang cangkang kima tersebut mencapai 137 cm dengan berat sekitar 250 kg.

Saat ini, cangkang kima pemegang rekor itu, menjadi koleksi sebuah museum di Irlandia Utara. Rekor untuk spesimen kima terberat, menjadi milik cangkang yang berasal dari Pulau Ishagaki, Jepang.  Kima tersebut memiliki panjang cangkang 115 cm dengan berat 333 kg (Wikipedia).

Gambar 22. Kima raksasa

Kima raksasa memiliki lipatan cangkang berjumlah 4 atau 5. Cangkangnya sangat besar, tebal dan berat. Saat dewasa, cangkang kima raksasa tidak dapat menutup dengan sempurna seperti cangkang jenis kima lainnya. Pada punggung lipatan terdapat deretan sisik yang tumpul dan sangat pendek seperti terlihat pada Gambar 22 (kanan).

Gambar 23. Variasi warna mantel Kima Raksasa 

Mantel kima raksasa dapat mengembang hingga keluar dari tepi bukaan cangkang. Mantel di tepian cangkang umumnya tebal dan bergelombang mengikuti kontur cangkang.

Warna mantel biasanya coklat diselingi totol-totol putih (Gambar 23 kiri). Warna mantel lainnya adalah hijau dengan sedikit campuran warna jingga kecoklatan (gambar 22 kiri) atau warna ungu yang diapit warna hijau dengan bercak biru seperti tampak  pada Gambar 23 kanan di atas.

Gambar 24. Cangkang Kima Raksasa yang besar dan berat. Sumber: Wikipedia

Gambar 25. Cangkang Kima Raksasa yang besar dan berat.

Salah satu contoh cangkang kima raksasa Tridacna gigas yang berukuran besar dapat dilihat pada Gambar 24 di atas.

Gambar 26. Daerah sebaran Kima Raksasa 

Daerah sebaran kima raksasa lebih terbatas dibandingkan jenis kima lainnya, meliputi Teluk Benggala dan Laut Andaman, Laut China selatan hingga Filipina dan Jepang, seluruh Kepulauan Indonesia dan Australia Utara hingga Kepulauan Fiji.

8. Kima Iblis/Kima Tevoro (Tevoro or Evil Giant Clam) 

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar