Masjid Menara Kudus
Rabu, 26 April 2017
ok nusantara
Bagikan

Masjid Menara Kudus

Kemegahan Wisata Religi Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus memiliki Gapura yang berbentuk berbeda dengan bangunan ini secara umum di Indonesia. Gapura dan juga bangunan menara tersebut dibuat dari tumpukan batu merah yang menyisakan daya pikat.

Jika datang bulan Ramadhan, masjid kuno ini akan masih tetap menarik dengan banyaknya para pengunjung. Biasanya dari Manca negara dan juga pengunjung dari domestik. Banyak sekali para wisatawan lokal yang terlihat dengan khusyuk membaca Alquran di sisi Gapura yang letaknya berada di dalam masjid.

Keindahan Menara Kudus

Saat bulan Ramadhan, Masjid Menara Kudus ini sangat ramai dikunjungi oleh para umat Muslim dari berbagai penjuru tanah air. Tak terkecuali juga para pedagang yang sedang memanfaatkan Momentum bulan suci. Biasanya mereka akan mendapatkan keuntungan sambil menjual dagangannya di sekitar kawasan masjid yang bernilai sejarah tersebut.

Sejarah Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus yang juga disebut dengan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-Manar merupakan sebuah masjid  yang dibangun oleh Sunan Kudus. Tepatnya yaitu pada tahun 1549 M  atau pada tahun 956 H dengan memakai batu dari Baitul Maqdis Palestina. Batu tersebut sebagai pondasi batu pertamanya. Masjid ini berada di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten  Kudus, Jawa Tengah yang tentunya berada di tengah-tengah kota Kudus.

Wisata Religi Menara Kudus

Masjid ini memiliki berbentuk yang unik, karena Masjid ini memiliki menara  yang serupa bangunan candi. Ini merupakan gambaran dari perpaduan antara budaya yang dimiliki agama Islam  dengan budaya yang dimiliki agama Hindu.

Pendiri Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus berdiri dengan tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai salah satu pendiri dan juga sebagai prakarsa. Begitu juga dengan para wali songo yang lainnya, Sunan Kudus mempunyai cara yang cukup bijaksana dalam berdakwah. Caranya yaitu dengan melakukan adaptasi ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat yang telah mempunyai budaya yang mapan. Yaitu dengan mayoritas yang telah memegang agama Hindu dan Budha. Pencampuran antara kedua agama tersebut dalam dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus, salah satunya bisa kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Wisata Religi Menara Kudus

Masjid yang didirikan pada tahun 1549 M atau 956 H ini diketahui dari sebuah  prasasti pada batu yang memiliki lebar 30 cm dan panjang 46 cm yang berada di mihrab masjid dengan ditulis dalam bahasa Arab.

Konstruksi dan Arsitektur Masjid Menara Kudus

Menara Kudus mempunyai ketinggian yakni sekitar 18 meter dengan bagian dasar dengan ukuran 10 x 10 m. Di sekitar bangunan dihiasi dengan piring-piring yang bergambar yang kesemuanya memiliki jumlah 32 buah. Dua puluh buah yang lainnya berwarna biru dan berlukiskan masjid manusia dengan hewan unta dan juga pohon kurma dan 12 buah yang lainnya berwarna merah putih dengan lukisan kembang.

Wisata Religi Menara Kudus

Di dalam bangunan menara terdapat tangga yang dibuat dari bahan kayu jati yang dibuat di tahun 1895 M. Bangunan dan hiasan nya sangat jelas menunjukkan tentang adanya hubungan dengan kesenian dari Hindu Jawa. Hal ini melihat kondisi bangunan menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian yaitu kaki, badan, dan puncak bangunan. Kemudian menara ini dihiasi dengan antefiks atau hiasan yang menyerupai bukit kecil.

Kaki dan juga badan menara dibangun dan diukir dengan nuansa tradisi Jawa-Hindu, termasuk juga pada motif yang dibuatnya. Ciri-ciri lainnya yang bisa kita lihat dalam penggunaan material batu bata yang di pajang tanpa menggunakan perekat semen. Dengan teknik konstruksi tradisional Jawa juga bisa dilihat dalam bagian kepala menara yang memiliki bentuk suatu bangunan. Ini menggunakan konstruksi kayu jati dan dengan empat batang saka guru yang bisa menopang dua tumpuk atap tajug.

Di bagian puncak atap tajug ada semacam Mustaka atau kepala yang terlihat seperti di puncak atap tumpang bangunan utama Masjid-Masjid tradisional yang berada di Jawa yang jelas ini merujuk pada unsur arsitektur budaya Jawa-Hindu.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar