Menjelajah Nusantara Membedah Ribuan Budaya
Sabtu, 15 September 2018
ok nusantara
Bagikan

Menjelajah Nusantara Membedah Ribuan Budaya

Indonesia dengan sejuta pesona keberagamannya menginspirasi kampanye “Mahakarya Indonesia” sebagai bentuk apresiasi terhadap mahakarya yang dimiliki Indonesia.

Menjelajah Nusantara Membedah Ribuan Budaya

Mahakarya memiliki dua arti, yaitu sesuatu yang merupakan pemberian Tuhan, yang sekaligus pemberian itu menginspirasi manusia untuk membuat mahakarya dengan memanfaatkan alam yang disediakan Tuhan.

“Bentuknya macam-macam, bisa karya seni, mental, jiwa. Karena setiap mahakarya pasti memiliki jiwa. Itu merupakan proses dari bagaimana mahakarya itu terbentuk,” jelas JJ Rizal, sejarawan di acara Mahakarya Indonesia, Perjalanan Eksplorasi Mahakarya Kebanggaan Indonesia di Jakarta, pekan lalu.

Pemilihan nama Mahakarya ini merujuk pada Indonesia yang merupakan karena Indonesia adalah empunya mahakarya. “Mesti bersyukur Indonesia itu empunya mahakarya. Empu itu artinya tukang dengan kemahiran yang sangat hebat dan Indonesia memang kaya banget,” ujar Rizal.

Mahakarya Indonesia sudah berlangsung sejak 2011 dan tahun ini menggandeng traveller, Ashari Yudha untuk membagikan inspirasinya dalam sebuah perjalanan bertajuk “Eksplorasi Mahakarya Kebanggaan Indonesia”.

Dalam perjalanan ini Yudha menjelajahi berbagai wilayah Nusantara, menemukan beragam kekayaan mahakarya yang telah menjadi kebanggaan dan sarat nilai-nilai yang berharga. Tak hanya mendokumentasikan lewat foto, Yudha juga bercerita banyak seluruh kisah petualangannya tentang budaya setempat.

Dalam kolaborasinya ini Yudha mengeksplorasi empat wilayah di Nusantara, yaitu Jawa-Madura, Sumatera, Sulawesi hingga Papua. Di setiap daerah tujuannya, Yudha mengangkat beragam kekayaan mahakarya dan kearifan lokal yang sudah menjadi kebanggaan daerah tersebut sambil terus menekankan tentang betapa pentingnya bagi masyarakat dan generasi muda, khususnya untuk tetap menjaga dan turut melestarikan budaya Indonesia dari generasi ke generasi lainnya agar tidak punah.

“Harapannya, kampanyenya terus tetap berjalan karena banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman untuk melestarikan budaya Indonesia,” ungkapnya.  gma/R-1

Jangan Terlalu Banyak Mikir

Backpacker solo sudah menjadi tren beberapa tahun belakangan ini. Namun, untuk melakukannya tidak boleh sembarangan, diperlukan persiapan khusus. Ashari Yudha memberikan tips untuk para millenial yang berniat menjadi traveller solo.

“Yang pertama pasti harus mengenal diri sendiri dulu, kayak dia orangnya gampang sakit jadi harus persiapin dirinya biar nanti gak ngerepotin orang lain,” ungkapnya.

Selain itu, dengan mengenal diri sendiri, nantinya ia tidak akan kesulitan ketika berada di dunia yang baru. Selain itu, ketahui pula bagaimana cara mengakses daerah tujuan dan mulai memperhitungkan pengeluaran yang dilakukan. “Biar hemat caranya simpel, jangan pernah berpikir kalau kita lagi jalan-jalan tapi pikir kalau kita lagi di rumah. Jadi bisa menentukan mana yang jadi prioritas kita terlebih dahulu,” jelasnya.

Untuk backpacker solo pertama kali ada baiknya juga memilih daerah yang dekat terlebih dahulu, semisalnya di sekitaran Pulau Jawa agar, karena pastinya akan kaget dengan perilaku masyarakat yang berbeda yang disebabkan perbedaan budaya yang dimiliki.

“Kalau daerahnya masih dekat, biasanya masih mirip budayanya. Kalau jauh takutnya kaget karena kulturnya pasti beda,” ujar Yudha. Ia menuturkan ada baiknya mulai subscribe promo-promo tiket perjalanan karena sekarang banyak maskapai yang memberikan promo. “Dan lagi kalau mau jalan langsung jalan aja jangan kebanyakan mikir karena kebanyakan malah gak jadi. Tapi jangan lupa juga dengan kewajibannya semisal harus kuliah atau kerja,” tutupnya.  gma/R-1

Impian Generasi Milenial

Menjadi traveller apalagi dibayar merupakan impian generasi millenial. Salah satunya Ashari Yudha, traveller blogger dan Instagram yang memiliki puluhan ribu followers. Ia mengaku bersyukur hobinya bisa menjadi pekerjaan.

“Alhamdulillah hobi bisa jadi pekerjaan,” ujar Yudha. Ia menambahkan dari dahulu suka jalan-jalan. Pertama kali ia travelling sendiri saat lulus SMA di daerah-daerah Pulau Sumatera, kemudian ia lanjutkan setelah usai kuliah.

Aktivitas travelling-nya diakui terinspirasi dari keluarganya sendiri yang memang perantau. Ia juga menyebut tidak pernah menggunakan kata ‘travelling’ ketika berjalan-jalan mengunjungi daerah-daerah yang ada di Indonesia, melainkan kata ‘merantau’.

“Karena kalau merantau kita bisa belajar dari banyak orang,” jelas Yudha. Tak hanya sekedar mendapatkan pemandangan alam yang indah, tetapi ia juga memperoleh banyak pelajaran seperti toleransi pada kultur yang berbeda-beda di setiap daerah.

“Kekayaan dan kearifan lokal tiap daerah itu berbeda-beda. Setiap provinsi pasti memiliki kebudayaan masing-masing,” tukasnya. Pemilik akun @catatanbackpacker ini menambahkan bahwa ingin membuat hal-hal inspiratif buat orang lain tak hanya untuk diri sendiri.

Dalam perjalanan eksplorasi mahakarya kebanggaan Indonesia, Yudha memaparkan bahwa melakukan perjalanan ke Papua, Sumatera, Sulawesi, dan Jawa-Madura kurang lebih empat bulan lamanya. Alasan kenapa kelima daerah itu dipilihnya karena daerah- daerah tersebut dinilai kaya cerita-cerita budayanya.

“Dan saya memang ingin tahu ada apa saja di sana,” kata Yudha. Di Papua ia sempat melihat Festival Lembah Baliem, atraksi kebudayaan antar suku yang dahulunya adalah perang antar suku, namun telah berubah menjadi kebudayaan lokal agar daerah mereka tetap subur. Berbeda lagi saat ia mengunjungi Mentawai di Sumatera.

“Harus lewat laut dulu selama empat jam, terus lewat sungai lima jam. Benar-benar (Mentawai) pedalaman dan gak ada sinyal,” ujarnya. Di sana ia mendapatkan pengetahuan baru tentang budaya di Mentawai terutama tato suku Mentawai yang merupakan tradisi yang menjadi pakaian seumur hidup sekaligus penunjuk jati diri dan status sosial.

Tato-tato tersebut memiliki bentuk yang berbeda dan arti masing-masing. “Seperti tato garis-garis pada kepala keluarga yang artinya sebagai kepala keluarga harus sanggup menyediakan rumah yang nyaman,” jelas Yudha. Respon followers-nya pun beragam, namun cerita tentang tato Mentawai dan pakaian adat Papua, koteka dianggap yang paling populer.

Yudha menjelaskan kalau hal tersebut dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai tato Mentawai dan koteka, atau kebanyakan masyarakat memandangnya dari satu sisi saja. “Padahal harusnya kita melihat juga dari sisi mereka itu bagaimana,” terang Yudha.

Selain itu Yudha menambahkan kesulitan yang diperoleh selama melakukan perjalanan adalah mencari narasumber yang tahu dan dapat berbicara detail mengenai budaya setempat, dikarenakan sudah tidak banyak orang yang melestarikannya. “Makanya itu pentingnya mengajak komunitas dan orang lokal. Tapi keseluruhan perjalanan ini menyenangkan, banyak dapat pelajaran yang gak diketahui sebelumnya,” tutupnya.  gma/R-1

 

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar