Misteri Patung Buddha Emas
Sabtu, 03 Juni 2017
ok nusantara
Bagikan

Misteri Patung Buddha Emas

Hasil gambar untuk misteri patung buddha emas berisi mayat akhirnya terungkap

Peristiwa heboh ini datang dari negeri China, dimana terdapat sebuah penemuan penting yang menarik untuk ditelusuri. Patung Buddha duduk dari China telah mengejutkan banyak peneliti, karena di dalam patung berbalut emas yang berusia berabad-abad itu terungkap bahwa ada sosok mumi dari seorang biksu di dalam patung tersebut. Hal ini terungkap setelah dilakukan pemindaian sinar-x pada patung tersebut.


Mumi itu diperkirakan telah berusia 1000 tahun dan merupakan seorang biksu buddha yang dulunya sangat dihormati. Menurut Vincent van Vils, seorang kurator arkeologi di Drents Museum di Belanda "Setelah kematiannya, ia dipuja sebagai sosok yang banyak memberikan pencerahan." Patung Buddha ini telah ada pada abad ke-11 yang dikenal dengan nama mumi Liuquan. Saat ini patung tersebut berada di Museum Drents di Belanda. 

Patung yang memiliki bentuk orang duduk dan dipernis dengan cat emas ini mempunyai catatan sejarah yang panjang dan cukup keruh. Ia pernah ditempatkan disebuah biara di China tenggara selama berabad-abad lamanya. Selain itu patung buddha ini juga pernah diselundupkan keluar negeri saat terjadi Revolusi Kebudayaan di China kala itu.

Namun ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, tidak hanya itu saja yang menjadi penemuan uniknya. Organ dalam tubuh sang biksu ternyata telah diganti dengan gulungan kertas yang berisi tulisan China. Dokter pakar gastrointestinal adalah yang pertama kali mengetahui temuan itu. Hal ini diakui oleh rumah sakit Amsterfoot yang mana menyebutkan "Ia telah membuat temuan menakjubkan. Di tempat yang semula hanya ada organ tubuh, ia (dokter gastrointestinal) menemukan beberapa gulungan kertas yang dituliskan dalam huruf China kuno."

Orang-orang banyak meyakini bahwa biksu yang ada dalam patung tersebut tidaklah mati, melainkan ia hanya atau masih bermeditasi. Kini patung buddha misterius itu dipajang di Museum Sejarah Alam Hungaria di Budapest.

SESOSOK mumi ditemukan di dalam sebuah patung Buddha. Para ilmuwan memperkirakan mumi itu ialah pendeta Buddha Liu Quan yang pernah hidup sekitar 1.000 tahun lalu.

Misteri yang tersimpan di dalam patung bercat emas itu pertama kali terkuak ketika para peneliti dari Museum Drents di Belanda berupaya menyelamatkan temuan tersebut beberapa tahun lalu. Patung itu seperti orang duduk dan berlapiskan pernis serta cat emas. Ia pernah disimpan di sebuah biara di Tiongkok bagian tenggara selama berabad-abad. Patung itu kemudian diselundupkan ke luar dari negeri itu ketika terjadi Revolusi Kebudayaan di Tiongkok pada 1966.

Patung Liu Quan lalu diperjualbelikan di Belanda dan pada 1996, pemiliknya memutuskan menyuruh seseorang untuk memperbaiki eksteriornya. Namun, ketika melepaskan patung dari platform kayu, mereka melihat dua bantal dihiasi teks Tiongkok di bawah lutut patung. Ketika memindahkan bantal itu, mereka menemukan serpihan tubuh manusia.

Mumi itu duduk di atas kain karpet gulung bertuliskan aksara Tiongkok. Para peneliti kemudian menggunakan isotop radioaktif dari karbon untuk memastikan masa kehidupan mumi itu dari abad ke-11 atau 12.

"Sementara itu, usia karpet itu sekitar 200 tahun lebih tua," kata Vincent van Vilsteren, seorang kurator arkeologi di Museum Drents. Pada periode tersebut, proses mumifikasi di Asia merupakan hal biasa. Di Tiongkok, begitu juga Jepang, Laos, dan Korea, terdapat tradisi memumikan diri sendiri atau self-mumification.

Dahulu para biksu Buddha bermeditasi sebagai bentuk pencarian pencerahan. Dalam 1.000 hari pertama, biksu yang menjalani praktik itu hanya memakan kacang-kacangan, biji-bijian, buah, dan beri untuk menurunkan bobot tubuh. Selain itu, mereka melakukan aktivitas fisik berat demi melunturkan seluruh lemak dalam tubuh.

Seribu hari berikutnya, mereka hanya memakan kulit dan akar pohon. Ketika mencapai akhir ritual tersebut, mereka meminum racun dari getah pohon urushi yang membuat mereka muntah dan kehilangan cairan tubuh dengan cepat. Racun itu juga diyakini menjadi pengawet alami yang membunuh belatung dan bakteria pengurai tubuh lainnya.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar