nikmatnya kesejukan dataran tinggi di nusantara indonesia
Minggu, 02 April 2017
ok nusantara
Bagikan

nikmatnya kesejukan dataran tinggi di nusantara indonesia



Kekayaan alam Nusantara bukan hanya laut dan hutan, tapi juga gunung. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak gunung yang tersebar di sejumlah pulau. Sebagian dari gunung-gunung tersebut adalah gunung berapi yang masih aktif, namun memikat banyak wisatawan dan peneliti manca negara. Gunung tidak hanya memberikan pemandangan alam yang menakjubkan tapi juga menyuguhkan udara sejuk yang dapat menghilangkan kepenatan lahir dan batin. Berikut ini adalah beberapa destinasi wisata pegunungan yang populer di Nusantara :

Batu

batu_en_wikipedia_org.jpg


Sekitar 15 km di barat kota Malang, terdapat Batu, daerah pegunungan yang memiliki panorama indah. Dataran tinggi yang berbatasan dengan kabupaten Mojokerto, Pasuruan dan Malang ini berada di ketinggian sekitar 1.200 meter dapl dengan suhu yang berkisar antara 15 – 19 derajat Celcius.

Batu sesungguhnya terletak di kaki gunung Panderman. Daerah ini menjadi tempat peristirahatan keluarga kerajaan di abad ke-10. Konon nama Batu diambil dari nama Mbah Wastu, seorang pemuka agama pengikut pangeran Diponegoro yang terkenal di masa lalu. Lalu sejak abad ke-19 Batu mulai populer di kalangan orang Belanda. Mereka mulai membangun villa atau tempat tinggal di sana.

Selain pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk, di wilayah yang pernah dijuluki sebagai Swiss Kecil di Pulau Jawa ini para wisatawan juga dapat menikmati beberapa obyek seperti :

• Pemandian air panas Cangar
• Perkebunan apel, jambu, jeruk, dan stroberi Kusuma Agrowisata
• Jatim Park 1
• Kebun binatang Jatim Park 2
• Batu Night Spectacular yang mirip Dunia Fantasi Ancol
• Batu Wonderland
• Museum Satwa

Bukit Barisan


bukitbarisan_regional_kompas_com.jpg


Terbentang dari Aceh hingga Lampung adalah sebuah jajaran gunung bernama Bukit Barisan dengan gunung Kerinci di Jambi sebagai puncak tertingginya (sekitar 3.800 meter dapl). Bukit Barisan memainkan peran penting sebagai sumber air di pulau Sumatera. Sungai-sungai seperti sungai Alas, Batanghari, Musi, Indragiri, dan Batangtoru berhulu di Bukit Barisan.

Sejak era ‘40an, banyak pakar geologi asing maupun lokal yang meneliti kawasan pegunungan ini, hingga pada tahun 1960-an seorang geolog asal Indonesia, JF Katili menemukan sedimen fosil kerang laut. Penemuan tersebut membuktikan bahwa Bukit Barisan tumbuh dari dasar laut akibat penunjaman lempeng Hindia-Australia ke bawah pulau Sumatera di lempeng Eurasia.

Di antara jajaran gunung sepanjang kurang lebih 1.650 km ini, tepatnya di provinsi Lampung dan provinsi Bengkulu, terdapat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Sebelum menjadi Taman Nasional pada tahun 1982, area ini merupakan cagar alam sejak tahun 1935. Luasnya sekitar 3.400 hektar dengan hutan tropis sebagai kekayaan alam yang dilindungi. Gajah Sumatera, harimau Sumatera dan badak Sumatera adalah spesies langka yang menghuni taman nasional ini. Jadi jika mengunjungi kawasan Bukit Barisan, wisatawan tidak hanya dapat menikmati pemandangan dan kesejukan pegunungan namun juga hutan tropis beserta segala isinya.


Kekayaan alam Nusantara bukan hanya laut dan hutan, tapi juga gunung. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak gunung yang tersebar di sejumlah pulau. Sebagian dari gunung-gunung tersebut adalah gunung berapi yang masih aktif, namun memikat banyak wisatawan dan peneliti manca negara. Gunung tidak hanya memberikan pemandangan alam yang menakjubkan tapi juga menyuguhkan udara sejuk yang dapat menghilangkan kepenatan lahir dan batin. Berikut ini adalah beberapa destinasi wisata pegunungan yang populer di Nusantara :

Dieng

dieng_news_liputan6_com.jpg

Di perbatasan antara kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara di Jawa Tengah terdapat sebuah dataran tinggi yang merupakan kawasan vulkanik dengan sejumlah kepundan kawah. Dataran tinggi ini muncul sebagai akibat dislokasi sebuah gunung berapi tua, yaitu gunung Prau. Dieng, yang berarti “tempat bersemayam dewa dewi” sesungguhnya adalah sebuah kaldera yang dikelilingi oleh beberapa gunung kecil.

Dieng terletak sekitar 26 km di utara ibukota kabupaten Wonosobo, dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter dapl. Di dataran yang suhunya berkisar antara 20 hingga 0 ini terdapat banyak candi yang membuktikan adanya peradaban Hindu di pulau Jawa pada abad ke-8. Dieng juga merupakan lahan pertanian. Selain kentang sebagai hasil utamanya, sayuran lain seperti wortel, kubis, jamur, dan bawang juga dihasilkan di sana. Pada cuaca yang ekstrim, suhu di Dieng dapat mencapai di bawah 0 sehingga menimbulkan embun beku yang dapat merusak kebun sayuran tersebut.

Meskipun harus senantiasa diwaspadai karena sering mengeluarkan gas/uap beracun dan lumpur gas, serta rawan gempa bumi, longsor dan banjir, kawasan Dieng tetap menarik minat banyak wisatawan karena terdapat beberapa obyek wisata di sana, antara lain Telaga Warna yang kerap menampakkan nuansa warna hijau, biru, merah, putih, dan keunguan; Telaga Merdada yang merupakan danau terbesar di Dieng di mana wisatawan dapat berkeliling danau menggunakan perahu; kawah Sikidang, Sinila, Sileri, dan Candradimuka; gua Semar, gua Jaran, dan gua Sumur; candi Gatotkaca, candi Arjuna, candi Srikandi, candi Semar, candi Bima; Dieng Volcanic Theater tempat menonton film tentang gunung api; serta museum Dieng Kailasa.

Gunung Bromo

bromo_en_wikipedia_org.jpg

Inilah salah satu gunung berapi paling populer di tanah air. Bromo, gunung berapi yang terletak di Jawa Timur, menjulang lebih dari 2.300 meter dapl dan hingga kini masih bersifat aktif. Secara geografis, gunung ini berada di empat kabupaten, yaitu Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo.

Jika bicara tentang Bromo, maka yang terlintas di benak kita adalah sebuah gunung megah dengan kaldera yang terhampar di sekitarnya. Ya, Bromo memiliki lautan pasir seluas sekitar 10 km persegi. Kawah gunung ini memiliki diameter sekitar 800 meter (utara – selatan) dan 600 meter (timur – barat), dan area berbahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari sekitar 4 km dari pusat kawah tersebut. Selama abad ke-20, gunung ini telah meletus tiga kali. Letusan terakhir terjadi pada tahun 2010.

Suku Tengger adalah penduduk asli Bromo. Setiap tahun mereka menyelenggarakan upacara Yadnya Kasada di sebuah pura di bawah kaki gunung yang kemudian dilanjutkan hingga ke puncak gunung di mana mereka mempersembahkan sesajian berupa ayam, sayuran, dan uang kepada dewa dengan melemparkannya ke dalam kawah. Mereka memercayai bahwa Bromo adalah gunung suci. Upacara ini menjadi salah satu daya tarik wisata Bromo. Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan pemandangan spektakuler saat matahari terbit atau menunggangi kuda untuk berkeliling kaldera, sambil menikmati hawa sejuk Bromo yang berkisar antara 20 hingga 3 celcius.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

gedepangrango_gedepangrago_org.jpg

Gunung Gede dan gunung Pangrango adalah gunung berapi kembar di Jawa Barat. Keduanya dihubungkan oleh pelana sepanjang 2.400 meter yang dikenal dengan nama Kandang Badak dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Taman nasional ini sebenarnya merupakan penyatuan Kebun Raya Cibodas, Cagar Alam Cimungkat, Taman Rekreasi Situgunung, dan Cagar Alam Gunung Gede Pangrango.

Taman nasional seluas 150 km persegi ini sangat populer di kalangan pecinta alam dan pendaki gunung. Pemandangan alamnya luar biasa, di mana lereng gunung yang curam, sungai yang deras, lembah yang dalam dan pegunungan yang panjang, juga ladang bunga Edelweiss di utara gunung Gede memberikan pengalaman yang menakjubkan bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Baik gunung Gede (2.958 meter dapl) maupun gunung Pangrango (3.019 meter dapl) dihuni oleh hewan langka seperti elang jawa, burung hantu jawa, monyet perak, dan lutung jawa. Selain itu juga terdapat pohon raksasa Rasamala, anggrek hutan, kantong semar (pemburu serangga), jamur bercahaya, dan banyak lagi jenis tumbuhan unik di sana.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan tempat penelitian konservasi dan hayati terpenting di Indonesia sangat cocok dijadikan destinasi wisata keluarga. Di sana para wisatawan dapat menikmati segarnya udara pegunungan nan sejuk sambil menikmati air terjun, danau kecil, juga menyaksikan kawah-kawah semi aktif. Pada tahun 1977, taman nasional ini resmi dijadikan bagian dari Cagar Biosfer Jaringan Dunia oleh UNESCO.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar