Paus Tinggalkan Kolombia dengan Doa bagi Perdamaian dan Orang Miskin
Selasa, 12 September 2017
ok nusantara
Bagikan

Paus Tinggalkan Kolombia dengan Doa bagi Perdamaian dan Orang Miskin

Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Sedunia,Paus Fransiskus, meninggalkan Kolombia pada Minggu (10/9/2017) waktu setempat dengan sebuah seruan untuk rekonsiliasi nasional setelah perang saudara selama setengah abad.

Dia juga berharap sebuah akhir yang damai atas krisis mematikan diVenezuela, negara tetangga Kolombia, yang dipimpin oleh Presiden Nicols Maduroitu.

Paus kelahiran Argentina berusia 80 tahun itu memimpin misa di lapangan terbuka di Cartagena, kota wisata utama Kolombia namun juga salah satu kota termiskin di wilayah itu.

Di hari terakhir lawatan kelimanya sebagai paus ke benua asalnya itu, Fransiskus mengulangi seruan perdamaian di Kolombia dan berdoa agar "krisis mematikan" Venezuela dapat segera berakhir dengan damai.

"Saya memastikan, semua doa saya untuk masing-masing negara di Amerika Latin, dan dengan cara yang khusus (juga berdoa) bagi negara tetangga Venezuela," kata Paus, seperti dilaporkan kantor berita Perancis, AFP, Senin (11/9/2017).

"Saya memohon agar semua kekerasan dijauhkan dari kehidupan politik dan untuk solusi terhadap krisis mematikan saat ini, yang berdampak buruk bagi semua orang, terutama masyarakat yang paling miskin dan tidak beruntung."

Krisis Venezuela

Krisis di hampir semua sektor kehidupan saat ini sedang melanda Venezuela. Krisis telah menyebabkan kekurangan pangan, obat-obatan, bentrokan pada demonstrasi anti-pemerintah yang menyebabkan 125 orang tewas dari April hingga Juli.

Vatikan telah berusaha, namun tidak berhasil, memediasi perundingan antara pemerintah Venezuela dan oposisi pada 2016.

Ribuan warga Venezuela telah melarikan diri ke Kolombia untuk menghindari krisis tersebut.

"Kami meminta Paus agar terlibat dalam proses dialog ini," kata Nancy Pugliese (35), seorang warga, yang menghadiri lawatan Paus Fransiskus di Cartagena.

"Kami membutuhkan semua dukungan spiritual yang diperlukan untuk membebaskan Venezuela. Paus harus memberi tahu Presiden Maduro secara langsung agar mendengarkan warganya."

Pada Minggu (10/9/2017), oposisi Venezuela mengadakan pemungutan suara untuk memilih kandidat untuk ikut bertarung dalam pemilihan gubernur pada Oktober tahun ini.

Koalisi oposisi (MUD) dan kekuatan internasional menuduh Maduro mengebiri demokrasi dengan mengambilalih kekuasaan dari lembaga negara.

Perdamaian di Kolombia

Fransiskus mengulangi seruannya bagi untuk rekonsiliasi di Kolombia karena dinilainya berhasil untuk mengakhiri konflik sipil yang telah berlangsung selama setengah abad.

Dia telah mendukung kesepakatan damai antara pemerintah dan pasukan gerilya terbesar di negara itu (FARC).

Kritikus mengatakan, gerilyawan telah menyadari perlunya perdamaian setelah adanya pengampunan atau amnesti atas mereka dan hukuman alternatif.

"Luka dalam yang sudah menahun tentu saja sangat membutuhkan keadilan agar dapat dijalankan dengan baik ... Tapi itu hanya permulaan saja," kata Fransiskus pada saat misa di Cartagena.

Di Cartagena, Franskus juga mengunjungi San Francisco, distrik miskin dan kumuh. Di sana ia memberkati peletakan fondasi tempat penampungan baru bagi para tunawisma.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar