Peneliti Tindaklanjuti Temuan Kelelawar Raksasa di Aceh
Jum'at, 08 September 2017
ok nusantara
Bagikan

Peneliti Tindaklanjuti Temuan Kelelawar Raksasa di Aceh

Pintu Goa Kelelawar

Tim riset Natural Aceh mulai melakukan penelitian terhadap hewan mamalia jenis kelelawar di Gunung Seulawah, menyusul ditemukan kelelawar raksasa di Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

"Komposisi dan keragaman kelelawar di Gunung Seulawah, kita fokuskan untuk diteliti. Beberapa waktu lalu telah ditemukan kelelawar raksasa di daerah Saree dan Lamteuba," ujar Ketua Tim Peneliti Riset Natural Aceh, Ellena Yusti, di Banda Aceh, Kamis, 7 September 2017, seperti dilansirAntara.

Penelitian itu memakan waktu selama empat bulan sejak awal September ini untuk tim mendata dan mengidentifikasi seluruh jenis kelelawar di Gunung Seulawah. Di Aceh, penelitian hewan mamalia yang menyusui dan berkembang biak dengan cara melahirkan ini terakhir dilakukan pada 1992 di Gunung Leuser.

Kelelawar merupakan hewan pemakan buah atau mengambil nektar dari buah tersebut, yang berperan penting bagi penyerbukan bunga tanaman di perkebunan warga setempat. Kotoran hewan ini mempunyai kandungan nitrogen yang tinggi. Tempat tinggalnya selalu di pohon. Sehingga, secara otomatis kotoran mampu menyuburkan tanah di sekitarnya.

"Kami berharap hasil penelitian terhadap hewan mamalia ini bisa dipublikasikan demi kepentingan ilmu pengetahuan," ujarnya.

"Paling penting lagi, diharapkan warga, tidak cuma di Aceh, menyadari pentingnya peranan kelelawar di lingkungan mereka. Sehingga kelelawar tidak diusir dan diburu."

Ketua Natural Aceh, Zainal Abidin Suarja, berterima kasih kepada musyawarah pimpinan daerah di Aceh Besar yang sangat akomodatif dan membantu terlaksananya penelitian ini. Tim riset kelelawar telah mengumpulkan dengan menangkap paling sedikit 200 ekor kelelawardi enam titik lokasi dari empat habitat kelelawar yang berbeda.

"Kita harap masyarakat jangan terkejut bila menemukan kelelawar mempunyai gelang hijau. Karena sebagai penanda bahwa kelelawaritu telah diukur dan diidentifikasi oleh kita. Semoga kita bisa dapatkan jenis kelelawar baru," kata dia.


1 dari 2 halaman

Petunjuk Tsunami Aceh

Hasil gambar untuk museum aceh tsunami

Dalam catatan penelitian tentang Aceh, kelelawar juga memberi petunjuk bagi peneliti. Salah satunya dalam penelitian tentang tsunami dahsyat di Aceh pada 2004 yang dilakukan tim gabungan dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Nanyang Technological University (NTU).

Seperti dipaparkan pada akhir Juli 2017, hasil temuan tim peneliti dari di dalam sebuah gua yang berada di Kabupaten Aceh Besar menunjukkan bahwa tsunami di Aceh telah terjadi beberapa kali sejak zaman dahulu. Salah satu datanya dari lapisan tanah atau pasir yang terbawa oleh gelombang dahsyat tersebut.

Penelitian dilakukan di Guha Ek Leuntie di dekat pantai Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kebupaten Aceh Besar. Masyarakat setempat sering menyebutkan gua tersebut merupakan gua kotoran kelelawar. Banyaknya tumpukan kotoran kelelawar yang melapisi dasar gua tersebut malah menjadi kunci utama pemecah misteri serangkaian peristiwa tsunami di Aceh.

Seorang peneliti dari Unsyiah Banda Aceh, Nazli Ismail, mengatakan penelitian ini bukan saja mengandalkan teknologi dan pengetahuan yang dimiliki manusia. Informasi dari alam juga sangat membantu.

"Kotoran kelelawar membantu mengidentifikasi dan menginformasikan tentang penelitian ini," ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, katanya, terdapat lapisan-lapisan pasir tsunami tersusun silang dengan endapan guano secara rapi.

Melalui proses identifikasi lapisan, penentuan radioaktif unsur karbon dan analisis fosil-fosil mikroskopis atau foraminifera, para ilmuan telah mampu merangkaikan peristiwa tsunami purba dashyat yang pernah menghantam daratan Aceh.

Penelitian yang terbantu kelelawarini sudah dilakukan sejak 2013 lalu. Terungkap dari hasil penelitian, tsunami di Aceh sudah terjadi sejak 7.400 tahun yang lalu. Bencana mahadahsyat ini terjadi tidak dalam jangka waktu yang beraturan, ada yang 2.000 tahun sekali dan ada yang 100 tahun sekali.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar