SAYANGI BUMI KITA
Sabtu, 18 Maret 2017
ok nusantara
Bagikan

SAYANGI BUMI KITA



Mari Menyayangi Bumi Lingkungan Hidup Kita





mari-menyayangi-bumi-lingkungan-hidup-ki

Bumi adalah tempat kita hidup sejak lahir hingga meninggal dunia, maka bumi juga sekaligus merupakan lingkungan hidup kita. Renungan paling sederhana tapi akan mengesankan adalah pertanyaan: apakah kita masih menyayangi bumi lingkungan hidup kita ini? Dengan menyayangi maka kita akan terdorong untuk memelihara, melakukan suatu apa pun agar bumi ini tetap indah dan nyaman untuk kita huni.

Memang sudah banyak pemikiran tentang bagaimana kita melestarikan bumi kita ini, terutama terkait dengan masalah kerusakan lingkungan hidup yang antara lain disebut menyebabkan terjadinya perubahan iklim global. Bumi makin panas. Muka laut semakin meninggi. Kehidupan semua mahluk hidup dan alam sekitarnya juga terancam.

Menurut hemat saya, suatu hal yang perlu kita jadikan bahan renungan adalah meningkatkan kesadaran bahwa bumi kita ini sebagai sakral adanya. Mari kita renungkan pula ajaran semua agama dan juga kearifan lokal termasuk pandangan nenek moyang kita dahulu, betapa bumi ini sebenarnya adalah sakral, meskipun kita tidak bermaksud menjadikan bumi sebagai obyek pemujaan sebagaimana halnya kita memuja Tuhan.

Namun dengan memandang bumi sebagai sakral kita akan makin menyadari bahwa bumi adalah ciptaan Tuhan yang sempurna, diperuntukkan bagi semua makhluk-Nya termasuk kita manusia agar hidup aman, damai dan tentram. Bertolak dari titik itu maka kita akan terdorong untuk terus menjernihkan pemikiran kita agar satu sama lain saling mengingatkan dan melakukan upaya-upaya berkelanjutan agar kita dapat menyelamatkan bumi dari kebangkrutannya dan sekali lagi agar tetap layak untuk dihuni bagi segenap mahluk hidup dan juga alam di sekelilingnya.

Setengah Abad

Tinjauan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun yang lalu kiranya masih relevan untuk disimak. Dikatakan bahwa dari hasil tinjauan ilmiah terhadap pemanasan global sedikitnya 90 persen penyebab pemanasan global dalam setengah abad terakhir adalah kesalahan manusia.

Perhatian masalah lingkungan hidup secara sungguh-sungguh sudah dimulai sejak lebih dari setengah abad yang lalu, yakni tahun 1962. Pada tahun itu pakar lingkungan Rachel Carson menerbitkan buku Silent Spring yang menguraikan seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia di masa depan. Dengan demikian masalah lingkungan hidup makin mengemuka dan juga mulai menjadi isu internasional yang penting.

Hal yang menarik masa itu sedang berkecamuk Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat. Jadi masalah lingkungan hidup waktu itu, meskipun mulai dianggap penting, namun publik dunia masih dipenuhi dengan masalah kegentingan politik dan keamanan internasional sebagai buntut Perang Dingin. Namun, masalah lingkungan hidup meskipun tampak lambat tetap mendapat perhatian termasuk kalangan politisi dunia.

Dalam perkembangan kemudian, seorang Senator Amerika Serikat asal Wisconsin, Gaylord Nelson pada tanggal 22 April 1972 memprakarsai untuk pertama kalinya Hari Bumi. Itulah asal mula mengapa 22 April ditetapkan sebagai Hari Bumi. Selanjutnya dalam waktu yang singkat yakni 5 Juni tahun itu juga dengan semakin besarnya perhatian dunia terhadap permasalahan lingkungan hidup berhasil diadakan Konferensi Stockholm dan 5 Juni disepakati sebagai Hari Lingkungan Hidup.

Perkembangan signifikan selanjutnya, PBB membentuk badan PBB yang menangani masalah lingkungan hidup yakni United Nations Environmental Programme (UNEP). Setelah perang dingin berakhir tepatnya tahun 1992 Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bertajuk Keselamatan Bumi diselenggarakan yang kemudian dikenal dengan sebutan KTT Bumi. Berakhirnya Perang Dingin membuat negara-negara di muka bumi ini mempunyai waktu yang lebih leluasa untuk lebih serius menangani permasalahan lingkungan hidup yang berguna untuk setiap bangsa.

Sebagaimana telah disinggung dimuka, meningkatnya suhu bumi yang memicu terjadinya perubahan iklim global merupakan akumulasi dari serangkaian permasalahan lingkungan global yang ada. Pada awal 2007, IPCC mengemukakan bukti-bukti terbaru terkait masalah perubahan iklim global dan gejala yang saling berkaitan seperti meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menghasilkan Efek Rumah Kaca (ERK) atau Greenhouse Effect akibat tingginya hasil pembakaran bahan bakar fosil.

Jadi perubahan iklim global yang terjadi disebabkan faktor aktivitas manusia. Memang tidak semua kalangan ahli setuju dengan pandangan diatas, yakni bahwa perubahan iklim yang terjadi saat ini bukan 100 persen kesalahan manusia. Bukankah bumi ini sejak lama dalam sejarahnya juga mengalami beberapa kali perubahan iklim secara drastis dan kala itu mahluk hidup bernama manusia belum ada. Tapi bagaimana pun, peringatan para pakar fisika dan lingkungan harus tetap menjadi mata perhatian dan tetap mendorong kita untuk berbuat sesuatu agar kondisi bumi kita ini tidak semakin memburuk.

Sejumlah pakar lingkungan dunia ada yang berpendapat bahwa kerusakan lingkungan hidup sudah dimulai sejak meletusnya revolusi industri beberapa abad yang lalu di dunia Barat. Mula-mula di Eropa (Inggris), kemudian merambat dan menyeberang ke benua Amerika Utara. Industri-industri dengan pabrik-pabriknya dibangun besar-besaran. Kesemuanya itu membutuhkan energi yang tak lain berasal dari dalam perut bumi ini juga, terutama bahan bakar fosil yang tetap dipakai secara besar-besaran oleh umat manusia sampai kini.

Tumbuhnya industri-indutri itu juga didorong oleh kapitalisme dunia yang dipicu pula oleh imperialisme bangsa-bangsa Barat terhadap bangsa-bangsa Timur. Hal ini membutuhkan uraian tersendiri. Singkatnya, setiap upaya untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil secara besar-besaran selalu dihadang oleh kepentingan ekonom nasional negara-negara besar yang enggan mengurangi pemakaian energinya demi kepentingan dan kemapanan perindustrian mereka. Sementara negara-negara berkembang lainnya juga ikut-ikutan ingin meniru menjadi negara industri baru bila sudah tiba masanya kelak.

Di Indonesia

Kita di Indonesia yang sedikit banyak telah menjadi korban perubahan iklim tetap perlu melakukan langkah-langkah, yakni berupa pencegahan dan juga apa yang disebut adaptasi. Indonesia tidak perlu terlalu bergantung pada sikap negara-negara maju yang seperti disinggung diatas, masih tetap enggan mengurangi emisi gas rumah kaca yang sekarang semakin menyelimuti bumi kita ini. Bagaimana pun, Indonesia harus tetap melakukan sesuatu, selain juga tetap gencar melakukan diplomasi lingkungan dalam berbagai forum internasional. Pencegahan antara lain dapat dilakukan dengan ditingkatkannya pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah dan juga perguruan tinggi.

Kita dapat mengurangi pemakaian bahan bakar fosil untuk kendaraan bermotor sehari-hari dengan melakukan perpindahan yakni lebih banyak menggunakan moda transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Bukankah pencemaran udara banyak disebabkan oleh asap kendaraan bermotor pribadi? Bisakah para pemimpin dan pejabat mulai memberikan contoh pemakaian sepeda untuk keperluan sehari-hari, baik dinas mau pun pribadi? Bisa kita contoh di negeri Belanda dan negara-negara Barat lainnya. Tapi memang harus dimulai dari kalangan atas dan juga selebriti, karena mereka merupakan panutan orang banyak.

Di rumah, kita bisa menukar peralatan rumah kita yang selama ini boros energi dengan peralatan baru yang lebih hemat energi. Petani dalam mengolah sawahnya bisa kembali menggunakan sapi atau kerbau dibandingkan mesin bajak yang juga rakus energi bahan bakar. Sedang adaptasi merupakan penyesuaian diri dalam rangka mengurangi risiko yang lebih besar terhadap bencana alam termasuk perubahan iklim. Filosofinya adalah manusia tidak bisa menghindari bencana yang menimpanya yang disebabkan oleh alam. Jadi suka atau tidak suka harus dihadapi. Maka adaptasi di sini adalah melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari bencana yang menimpa.

Mungkin sudah banyak yang lupa bahwa Pemerintah RI di bawah Presiden SBY, berkaitan dengan program adaptasi berencana melakukan penanaman dua milyar pohon dalam kurun 2007-2014 di seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah rawan dampak perubahan iklim global.

Ada baiknya program besar itu diamati sejauh mana kelanjutannya. Langkah-langkah adaptasi juga dapat berupa pengamatan terus menerus

Hasil gambar untuk lingkungan hidup bumi kita

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar