Tips Mengatasi Kenakalan Remaja
Kamis, 11 Mei 2017
ok nusantara
Bagikan

Tips Mengatasi Kenakalan Remaja

Hasil gambar untuk cara membentengi diri dari pengaruh buruk LINGKUNGAN

CARA MENGHADAPI MASALAH BURUK DALAM MASA REMAJA

CARA MENGHADAPI MASA REMAJA
A. PENDAHULUAN
Masa remaja erat kaitannya dan sering sekali dihubung-hubungkan dengan yang
namanya kenakalan remaja. Masa remaja secara umum merupakan peralihan transisi
dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Sebenarnya kenakalan remaja itu timbul akibat
dari ketidak mampuan anak dalam menghadapi tugas perkembangan remaja yang harus
dipenuhi.
Pada masa remaja banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri anak, baik segi
psikis maupun fisiknya. Dalam segi psikis banyak teori-teori perkembangan yang
memaparkan ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat
dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi
pada dirinya maupun akibat perubahan pada lingkungan. Jika tidak diwaspadai,
perubahan-perubahan psikis yang terjadi sebagai tugas perkembangan remaja itu akan
berdampak negatif pada remaja.
B. PENGERTIAN REMAJA
Remaja yang dalam bahasa aslinya adolescence berasal dari bahasa latin
adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Menurut
Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk
(2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam
Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasanbatasan
yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama,
tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan
istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
2 Eva Imania Eliasa,M.Pd dalam Seminar KKN PPL UNY di SMP PIRI Ngaglik Sleman,
9 Agustus 2012
Menurut Piaget (Hurlock,1991) yang dikutip oleh Mohammad Ali dalam
bukunya Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik mengatakan bahwa secara
psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam
masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di
bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Remaja sebenarnya tidak memiliki tempat jelas. Mereka bukan lagi termasuk
golongan anak-anak, tetapi juga belum juga diterima secara penuh untuk masuk
kedalam golongan orang dewasa. Seringkali kita kenal bahwa masa remaja adalah masa
mencari jati diri atau masa topan dan badai, mereka belum mampu mengusai dan
memfungsikan secara maksimal fungsi fisik dan psikisnya. Pada umumnya remaja
memiliki rasa ingin tahu yang besar, hal itu mendorong remaja untuk berpetualang,
menjelajah sesuatu, mencoba sesuatu yang belum dialaminya. Mereka sering
mengkhayal, dan merasa gelisah, serta berani melakukan pertentangan jika dirinya
merasa disepelekan atau tidak dianggap. Untuk itu mereka memerlukan keteladanan,
konsistensi, serta komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa. Jika keinginan
tersebut mendapatkan bimbingan dan penyaluran yang baik, maka akan menghasilkan
kreatifitas yang bermanfaat. Jika tidak, dikhawatirkan dapat menjurus kepada hal
negatif (kenakalan remaja). Seringkali mereka melakukan perbuatan menurut normanya
sendiri karena terlalu banyak menyaksikan ketidakkonsistenan yang dilakukan oleh
orang dewasa/orang tua di masyarakat. Apa yang dikatakan orang dewasa ternyata tidak
sesuai dengan fakta di lapangan. Hal seperti diatas merupakan pemicu mengapa remaja
melakukan hal-hal sesuai dengan normanya sendiri, bahkan mereka tidak
memperdulikan norma-norma yang berlaku di masyarakat bahkan agama.
Masalah yang timbul apabila tidak memenuhi tugas perkembangan remaja :
Menurut Hurlock (1998) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi
tugas-tugas tersebut, yaitu :

1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan
kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial,
tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas
pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau
penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar
dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Remaja masa kini banyak sekali tekanan-tekanan yang mereka dapatkan, mulai dari
perkembangan fisiologi, ditambah dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya serta
perkembangan teknologi yang semakin pesat. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya
masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau perilaku yang
mengakibatkan bentuk penyimpangan perilaku yang disebut kenakalan remaja.
Menurut penulis, tekanan-tekanan yang timbul dari lingkungan dan orang tua yang
menginginkan anak melakukan peran dewasa, padahal mereka masih tergolong dalam
masa remaja, secara psikologis anak belum mampu menghadapinya. Stres, kesedihan,
kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja salah pergaulan membuat mereka
mengambil resiko dengan melakukan kenakalan remaja (Fuhrmann, 1990).
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KENAKALAN REMAJA
1. Identitas remaja itu sendiri
Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga
sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Remaja dengan
permasalahannya,dalam Gunarsa (1989) seperti :
a. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
b. Ketidakstabilan emosi.
c. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
d. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

e. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab
pertentangan-pertentang dengan orang tua.
f. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup
memenuhi semuanya.
g. Senang bereksperimentasi.
h. Senang bereksplorasi.
i. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
j. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan
berkelompok.
Sehingga dari bertumpuknya masalah, remaja itu sendiri tidak mempunyai pegangan
dan tokoh yang kuat dalam dirinya, maka akan melakukan tindakan yang melanggar
norma agama, norma sosial dan norma sekolah.
2. Faktor lingkungan merupakan peran utama dalam membantu masa remaja untuk
menyelesaikan tugas perkembangannya. Adapun faktor faktor yang dapat menyebabkan
munculnya kenakalan remaja adalah Keluarga (rumah tangga), Sekolah, dan Kondisi
Masyarakat (lingkungan social).
a. Keluarga (rumah tangga).
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak/remaja yang dibesarkan
dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik atau disharmoni keluarga, maka
resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian
antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak yang
dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis (sakinah).
b. Sekolah

Kondisi sekolah yang tidak baik dapat mengganggu proses belajar mengajar anak
didik, yang pada gilirannya dapat memberikan peluang pada anak didik untuk
berperilaku menyimpang. Misalnya, kurikulum sekolah yang sering berganti-ganti,
muatan agama/budi pekerti yang kurang. Dalam hal ini yang paling berperan adalah
guru Agama, guru PKN dan Bimbingan Konseling, meskipun semua elemen sekolah
bertanggung jawab atas perilaku anak di sekolah.
c. Kondisi Masyarakat (Lingkungan Sosial)
Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau rawan, merupakan faktor
yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor lingkungan
yang sehat misalnya:ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor
kerawanan masyarakat; dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas).
Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:
Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan):
1. Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malambahkan sampai dini hari
2. Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya
3. Pengangguran
4. Anak-anak putus sekolah/anak jalanan
5. Wanita tuna susila (WTS)
6. Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya
pornografis dan kekerasan
7. Perumahan kumuh dan padat
8. Pencemaran lingkungan
9. Tindak kekerasan dan kriminalitas
10. Kesenjangan sosial
Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)

1. Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya
2. Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal
3. Kebut-kebutan
4. Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan
5. Perkosaan
6. Pembunuhan
7. Tindak kekerasan lainnya
8. Pengrusakan
9. Coret-coret dan lain sebagainya
Kondisi psikososial yang seperti ini, merupakan faktor yang kondusif (rawan) bagi
terjadinya kenakalan remaja.
D. CARA MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Masa remaja sebagai periode merupakan suatu periode yang sarat dengan
perubahan dan rentan munculnya masalah (kenakalan remaja). Untuk itu perlu adanya
perhatian khusus serta pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap
remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya,
mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan.
Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihakpihak
lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan dan bidangbidang
lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia.
Ada beberapa cara dalam menghadapi siswa remaja :
1. Curhat Untuk Memancing Curhat. Bila pertanyaan ada masalah apa? dijawab
dengan nggak ada masalah yang dingin, ceritakanlah sebuah kisah yang sifatnya
personal. Namun ingat jangan pernah sekali-kali mengawali kisah Anda dengan kalimat
Saat saya seumuran kamu. Kalimat itu sama basinya dengan sayuran kemarin sore.

Cobalaha kalimat baru seperti, Memang saya tidak tahu bagaimana rasanya jadi anak
usia 15 tahun di jaman seperti sekarang ini. Tapi sata tahu rasanya jadi orang yang
kesepian.
2. Kritiklah Kelakukannya, Bukan Anaknya. Jangan katakan, Hanya orang bodoh
yang merokok! namun katakan Saya marah karena kamu telah mengambil keputusan
yang salah.. maka remaja akan mengerti apa yang harus dikendalikan dalam tingkah
lakunya, demikian menurut Marc A. Zimmerman, Ph.D, profesor psikologi dari
University of Michigan.
3. Carilah kejadian-kejadian yang bisa menjadi pelajaran. Jadikanlah sebuah
kejadian sebagai pembuka obrolan. Misalnya saat Anda dan siswa/siswi membaca
perkembangan infoteinment dengan headline Ariel Peterpan Punya Banyak Pacar.
Headline seperti ini bisa dijadikan sebagai topik pembukaan untuk masuk ke
percakapan mengenai seks. Berada di luar rumah juga dapat memudahkan terjadinya
pembicaraan-pembicaraan seperti di atas, karena anak sering berpikir bahwa rumah
adalah wilayah kekuasaan orang tuanya.
4. Jangan Menghilang. Saat siswa remaja berkata Pergi saja ini bisa berarti,
Tinggalkan saya sendirian saat ini, namun datanglah beberapa saat lagi. Tunjukan
kepedulian Anda dengan menyelipkan nota kecilyang menyatakan bahwa dia sangat
berarti bagi diri Anda. Bila Anda menjauhi siswa Anda di saat seperti ini, Anda tidak
akan mengetahui hal-hal apa yang dianggap penting oleh siswa Anda. menurut Nancy
Molitor, Ph.D, asisten profesor untuk bidang psikologi klinis di Northwestern
University Medical School. Saat Anda dan siswa Anda punya waktu untuk duduk
bersama dan membahas masalahnya, ingatkan siswa Anda bahwa dialah orang penting
dalam hidup Anda dengan cara memastikan segala alat komunikasi Anda.
5. Pahami Kamus Bahasanya. Memahami perkataan mereka dan makna sebenarnya
merupakan hal yang harus Anda kuasai. seperti: 1) Saya Baik-Baik Saja artinya

pertanyaan ayah terlalu sederhana dan tidak berarti, saya tidak punya waktu untuk
pertanyaan seperti itu sekarang., cobalah tanyakan siapa yang membuatnya kesal. 2)
Jangan Sekarang! artinya saya ingin mencari jalan keluar sendiri, jadi saya akan
beritahu kapan kita bisa bicara., cobalah cari tahu kapan anak Anda bisa nongkring
sambil makan es krim bersama. 3) Terserah Deh! artinya Saya tidak tahu apa yang
sedang saya rasakan atau apa yang ingin saya katakan -saya sedang mengulur
waktu.Anak Anda merasa bahwa pertanyaan Anda menggangu. 4) Saya Benci
Ayah! artinya Saya sedang marah (bila dia benar-benar membenci Anda, dia tidak
akan mengatakannya langsung). Tanyakan mengapa dia marah. 5) Ayah Payah!
artinya bahwa kata ini merupakan versi lebih kejam dari nomor 4. Cobalah buat rumah
Anda bebas dari kata-kata makian dan penuhi peraturan itu.
D. PENUTUP
Untuk membentengi diri dari pengaruh diatas agar kita tidak ikut andil dalam
kenakalan remaja maka hendaknya kita melakukan upaya pencegahan. Kenakalan
remaja di Sekolah Menengah Pertama merupakan permasalahan bersama, sehingga
diperlukan penanganan yang bersinergi. (1) Dari remaja sendiri, harus meningkatkan
dan membangun kehidupan iman sesuai dengan agama dan keyakinan yang kita anut,
artinya remaja harus sungguh-sungguh menjalankan ajaran-ajaran dan perintah agama
dengan baik. (2) Dari segi orang tua harus membimbing, membina, dan mengarahkan
kehidupan keagamaan anaknya sejak dini. Karena ternyata banyak orang tua yang tidak
dapat berperan sebagai orang tua yang seharusnya. Mereka hanya menyediakan materi
dan sarana serta fasilitas bagi si anak tanpa memikirkan kebutuhan batinnya. Orang tua
juga sering menuntut banyak hal tetapi lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi si
anak. Sebenarnya kita melupakan sesuatu ketika berbicara masalah kenakalan remaja,
yaitu hukum kausalitas. Sebab, dari kenakalan seorang remaja selalu dikristalkan
menuju faktor eksternal lingkungan yang jarang memperhatikan faktor terdekat dari
lingkungan remaja tersebut dalam hal ini orang. Orang selalu menilai bahwa banyak
kasus kenakalan remaja terjadi karena lingkungan pergaulan yang kurang baik, seperti

pengaruh teman yang tidak benar, pengaruh media massa, sampai pada lemahnya iman
seseorang. (3) Dari fihak guru di sekolah, membawa materi budi pekerti dalam
pembelajaran di kelas; menjadi guru yang humanis, sehingga dekat dengan siswa selain
menjadi panutan bagi siswanya.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar