Torehan Kuno Tertua di Dunia Berasal dari Pulau Jawa
Kamis, 07 Desember 2017
ok nusantara
Bagikan

Torehan Kuno Tertua di Dunia Berasal dari Pulau Jawa

Terkuak: Gambar Berupa Torehan Zig-ZagKuno Tertua di Dunia, Berasal dari Pulau Jawa

torehan Tertua Dunia di cangkang kerang Berasal dari Pulau Jawa header

Torehan tertua di dunia yang terdapat pada cangkang ternyata berasal dari tanah Jawa, tepatnya dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Penelitian yang dipublikasikan di Naturepada Senin (1/12/2014) silam telah mengungkapnya.

Cangkang kerang yang dianalisis ditemukan oleh paleontolog Eugene Dubois di situs Trinil pada tahun 1896. Dubois juga menemukan kerangka Homo erectus. Kerangka dan cangkang itu lalu dikirim ke Museum Leiden pada tahun 1930.

Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, beserta rekannya adalah pihak yang mengonfirmasi bahwa torehan tersebut merupakan yang tertua, berasal dari masa 500.000 tahun lalu.

Jordens sedang mengerjakan proyek penelitian tentang penggunaan sumber daya laut oleh spesies manusia purba Homo erectus di situs Trinil, Jawa Timur. Ia kemudian menganalisis cangkang kerang air tawar spesies Pseudodon vondembuschianus trinilensis.

torehan Tertua Dunia di cangkang kerang Berasal dari Pulau Jawa

Gambar kuno tertua di dunia pada cangkang kerang dari situs Trinil. Gambar berbentuk zig-zag tersebut ditaksir berusia 500.000 tahun. (Pict: Wim Lustenhouwer/VU University Amsterdam)

Saat menganalisis, Jordens menemukan perforasi atau lubang-lubang kecil selebar beberapa milimeter pada permukaan cangkang kerang. Menurut dia, hal itu merupakan indikasi adanya orang pada masa itu yang berupaya membuka cangkang dengan alat tajam macam gigi hiu.

Rekan Jordens kemudian memotret cangkang tersebut dan mengamatinya lebih detail. Lewat pengamatan saksama, diketahui bahwa permukaan cangkang tersebut memiliki torehan-torehan berbentuk zig-zag.

Pengamatan di bawah mikroskop kemudian menguak bahwa pola zig-zag itu dibuat secara sengaja. Garis zig-zag yang masing-masing memiliki panjang 1 cm tersebut kontinu, tidak putus-putus, menunjukkan bahwa pembuatnya menaruh perhatian pada detail.

Jordens dan rekannya melakukan penanggalan pada sedimen yang terdapat pada cangkang dengan argon dan luminescence. Hasil penanggalan mengungkap bahwa pola zig-zag itu berasal dari masa 500.000 tahun lalu, bukan dibuat oleh Homo sapiens, melainkan Homo erectus!

homo erectus soloensis

homo erectus soloensis

“Penemuan ini sangat spektakuler dan berpotensi mengubah cara pandang kita tentang Homoawal (manusia purba),” kata Nick Barton, arkeolog dari Universitas Oxford yang tak terlibat studi.

Apakah torehan tersebut merupakan bentuk seni? Jordens mengatakan, “Jika Anda tidak mengetahui tujuan dari seseorang yang membuatnya, maka tidak mungkin untuk menyebutnya sebagai seni.”

“Akan tetapi, di sisi lain, ini adalah gambar purba. Ini adalah cara untuk mengekspresikan diri. Apa tujuan dari orang yang membuatnya, kita tidak tahu,” ungkap Jordens seperti dikutip Nature, Rabu (3/12/2014) silam.

Clive Finlayson, pakar hewan dari Museum Gibraltar yang juga terlibat dalam studi, mengatakan, yang terpenting dari temuan ini adalah bahwa manusia purba sudah punya kemampuan berpikir abstrak, sama seperti manusia modern.

Menurut penelitian, pola zig zag yang ditemukan di sebuah kerang fosil di Indonesia, diduga adalah ukiran paling tua karya nenek moyang manusia.

Para ahli antropologi yang melakukan penelitian mengatakan, ukiran tersebut setidaknya dibuat 430.000 tahun lalu. Artinya, lukisan pada kerang itu dibuat oleh manusia purba Homo erectus di Trinil, Jawa Timur.

Torehan pada cangkang Pseudodon vondembuschianus trinilensis berusia 500.000 tahun, dinyatakan sebagai torehan tertua di dunia. (Pict: Wim Lustenhouwer/VU University Amsterdam)

Torehan pada cangkang Pseudodon vondembuschianus trinilensis berusia 500.000 tahun, dinyatakan sebagai torehan tertua di dunia. (Pict: Wim Lustenhouwer/VU University Amsterdam)

Pahatan pada kerang ini ditemukan melalui penelitian baru terhadap 166 kerang air tawar yang ditemukan di Trinil. Ratusan kerang air tawar yang difosilkan digali dan dikumpulkan oleh ilmuwan Belanda Eugene Dubois pada tahun 1890-an. Salah satu penulis laporan kerang ini, Stephen Munro, mengambil foto kerang-kerang pada 2007 sebagai bagian dari tesis S3.

Seperti diterbitkan juga di jurnal Nature, hasil penelitian menyebutkan pahatan tampak jelas bila dilihat di foto digital tetapi tidak tampak bila dilihat dengan mata biasa. Bila dikukuhkan, Munro mengatakan temuan tersebut mungkin akan “menulis ulang sejarah manusia”.

“Ini kali pertama kami menemukan bukti Homo erectus bertindak seperti ini,” kata peneliti dari Australian National University itu. Pahatan tertua buatan manusia yang ditemukan sebelumnya diperkirakan berumur 130.000. Dengan demikian ukiran kerang dari Trinil itu jauh lebih tua.

The geometric pattern on Pseudodon shell, from left to right, top to bottom: overview (scale bar – 1 cm); schematic representation; detail of main engraving area (scale bar – 1 cm); detail of the engraving (scale bar – 1 mm). Image credit: Josephine C. A. Joordens et al.

Gambar Kuno dari Trinil Bukti Manusia Purba Punya Kreativitas

Penemuan torehan tertua di dunia pada cangkang dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur ini menunjukkan bahwa kemampuan kreatif tidak spesial hanya milik manusia modern (Homo sapiens), tetapi juga dimiliki manusia purba Homo erectus.

Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa perilaku manusia modern tidak tiba-tiba saja muncul begitu spesiesnya berkembang, tetapi telah mengakar pada moyangnya, para manusia purba.

homo habilis 3

Homo habilis sedang memakai alat dari batu. (foto ilustrasi).

Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, mengungkap bahwa torehan pada cangkang kerang air tawar spesies Pseudodon vondembuschianus trinilensis adalah yang tertua di dunia.

Berdasarkan analisis sedimen pada cangkang dengan penanggalan Argon dan luminesens, Jordens menyatakan, torehan berbentuk zig-zag tersebut berusia antara 540.000-430.000 tahun.

Dengan usia itu, Torehan tersebut lima kali lebih tua dari gambar geometris tertua di dunia sebelumnya yang ditemukan di goa wilayah Afrika Selatan, berusia antara 70.000 hingga 100.000 tahun.

Temuan torehan pada cangkang dari Trinil memberi petunjuk tentang asal-usul kreativitas sebab torehan tersebut dibuat oleh spesies manusia purba, Homo erectus, sementara torehan di Afrika Selatan dibuat oleh manusia modern, Homo sapiens.

Jordens seperti dikutip National Geographic, Rabu (3/12/2014) silam mengatakan, “Ini menunjukkan asal-usul dari kemampuan itu (kreativitas) jauh lebih awal dari yang kita duga sebelumnya.”

“Kita sebagai manusia cenderung berpusat pada spesies kita, menganggap bahwa kita hebat dan mereka manusia purba bodoh, tetapi saya tidak berpikir begitu. Kita harus menghargai nenek moyang kita lebih tinggi,” imbuhnya.

Eugene DuboisAlison Brook, paleoantropolog dari Smithsonian Institutipon di Amerika Serikat, mengatakan hal yang sama. Ia mengungkapkan, temuan ini berdampak besar, terutama pada pemahaman tentang spesies manusia modern dan moyangnya.

Secara umum, dipercaya bahwa manusia menjadi modern secara anatomi dan perilaku sekitar 100.000-200.000 tahun lalu.

Kemampuan manusia berkembang pesat pada masa itu sehingga dalam hitungan ribuan tahun, manusia mampu menggambar pada dinding-dinding goa.

Gambar kuno dari Trinil memberi petunjuk bahwa skenario tersebut tidak tepat. “Perilaku manusia modern tidak tiba-tiba saja muncul seperti percikan. Ini ialah sesuatu yang sudah mengakar jauh sebelumnya,” ungkap Jordens.

Cangkang kerang yang dianalisis dalam riset Jordens ditemukan oleh paleontolog Eugene Dubois di situs Trinil pada tahun 1896. Dubois juga menemukan kerangka Homo erectus. Kerangka dan cangkang itu lalu dikirim ke Museum Leiden pada tahun 1930.

Saat mengoleksi cangkang, Dubois tidak menyadari adanya torehan pada permukaannya. Adanya torehan baru disadari oleh Jordens dan Streven Munro, antropolog dari Museum Nasional Australia, tujuh tahun lalu. (Sumber: Kompas sains/ Nature/ National Geographic)

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar